Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Lakon Wayang Orang Sriwedari: Pertarungan Dewa Amral, Kisah Epik Pandawa yang Menggetarkan Khayangan

Mannisa Elfira • Selasa, 6 Mei 2025 | 00:18 WIB
Lakon Wayang Orang Sriwedari.
Lakon Wayang Orang Sriwedari.

SOLOBALAPAN.COM - Kisah menggetarkan tentang nasib para Pandawa kembali diangkat dalam pentas Wayang Orang Sriwedari.

Mengusung lakon berjudul “Dewa Amral”, pertunjukan yang digelar di Gedung Wayang Orang Sriwedari pada Rabu (30/4/2025) ini menyuguhkan cerita penuh emosi, konflik batin, dan pertarungan yang mengguncang Khayangan.

Cerita dibuka dengan amarah Dewi Drupadi yang meledak kepada sang suami, Prabu Puntadewa.

Sang raja datang membawa kabar duka: keempat adiknya, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, telah dibawa ke Khayangan oleh Hyang Narasa.

Mereka menjadi pengganti Puntadewa yang akan dimasukkan ke Kawah Candradimuka sebagai bentuk hukuman.

Sutradara pementasan, Irizal Surya, menjelaskan bahwa hukuman ini dijatuhkan karena Puntadewa dianggap telah menyalahgunakan nama "Dewa" – gelar yang seharusnya hanya dimiliki para makhluk suci penghuni Khayangan seperti Dewa Indra dan Dewa Brahma.

"Rajanya para dewa, Bhatara Guru, menjatuhkan hukuman kepada Puntadewa karena dia seorang manusia biasa dari bumi. Namun dia berani menyandang nama yang seharusnya hanya milik para dewa," ungkap Rizal saat diwawancarai di balik layar.

Tak rela sang kakak dihukum, keempat Pandawa memutuskan untuk menggantikannya secara sukarela.

Mereka pun berangkat menuju Khayangan untuk menghadapi Raja Dewa dan membebaskan Puntadewa dari nasib buruk tersebut.

Sementara itu, Sri Krisna, yang mencari para Pandawa ke Kerajaan Amarta, menemukan bahwa mereka telah menuju Khayangan.

Menyadari ketegangan yang terjadi di alam para dewa, Krisna kemudian menyamar menjadi raksasa sakti bernama Amral Bethara.

Di sisi lain, meskipun menerima keputusan awal, Puntadewa sesungguhnya enggan membiarkan adik-adiknya menjadi korban.

Dorongan kuat datang dari sang istri, Drupadi, yang menegur keras keputusan Puntadewa.

“Sebagai raja, kamu harus bertanggung jawab atas keputusan dan kesalahanmu sendiri. Jangan bebankan itu kepada adik-adikmu,” ucap Drupadi, menggetarkan hati sang raja.

Tersentuh oleh perkataan istrinya, Puntadewa akhirnya memutuskan untuk bertindak. Ia menuju Khayangan dengan menyamar sebagai raksasa bernama Dewa Amral.

Di sana, ia membuat kekacauan demi menyelamatkan saudara-saudaranya, sampai para dewa turun tangan untuk melawannya.

Namun tak satu pun dari mereka mampu menandingi kekuatan Dewa Amral.

Melihat kekacauan ini, Bhatara Guru kemudian meminta bantuan kepada Amral Bethara – sosok raksasa yang tak lain adalah jelmaan Sri Krisna.

Krisna setuju dengan satu syarat: jika ia menang, maka para Pandawa harus dikembalikan ke Amarta dan tidak boleh lagi dimasukkan ke kawah.

Pertarungan sengit pun terjadi antara dua raksasa sakti tersebut. Namun, di tengah pertempuran, keduanya kembali ke wujud asli masing-masing.

Seluruh dewa pun berkumpul, dan Krisna menegaskan bahwa keputusan menghukum Puntadewa adalah bentuk ketidakadilan.

Rizal juga menegaskan bahwa nama "Puntadewa" bukan sembarang nama.

Nama tersebut diberikan oleh ibunya, Dewi Kunthi, dan mencerminkan garis keturunan suci karena Puntadewa merupakan anak dari Dewa Dharma.

“Oleh karena itu, darah dewa mengalir dalam dirinya. Maka, wajar jika ia menggunakan nama Puntadewa. Akhirnya, Raja Dewa pun menyadari kekeliruannya dan mencabut hukuman tersebut,” tutup Rizal.

Lakon Dewa Amral bukan sekadar kisah kepahlawanan dan pertarungan antara kekuatan besar.

Ia juga merefleksikan nilai-nilai tanggung jawab, pengorbanan, serta keteguhan hati dalam menghadapi ketidakadilan.

Wayang Orang Sriwedari melalui pertunjukan ini tidak hanya menghidupkan kembali kisah klasik, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang masih sangat relevan di tengah dinamika kehidupan modern. (nis/did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#sriwedari #wayang orang #Lakon