SOLOBALAPAN.COM - Di lereng Gunung Lawu, tepatnya Dusun Plawan, Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso, terdapat sebuah kisah tradisi lisan yang kini hidup kembali melalui seni pertunjukan.
Kisah ini dikenal sebagai Legenda Kyai Sabuk Janur, yang dahulu disampaikan secara turun-temurun oleh para sesepuh desa.
Namun, seiring berkembangnya zaman dan dominasi media sosial, minat masyarakat terhadap tradisi lisan mulai memudar.
Baca Juga: Sendang Gotan, Mata Air Keramat di Klaten yang Diyakini Punya Kekuatan Mistis
Guna menjaga warisan ini tetap hidup, Kepala Desa Girimulyo, Ponco Adi Prasetyo, bersama para tokoh desa berinisiatif mentransformasikannya menjadi sebuah tari pertunjukan.
Cerita ini mengisahkan perjalanan Kyai Ageng Sukuh atau Brawijaya V menuju Puncak Gunung Lawu, didampingi dua abdinya: Dipo Menggolo dan Wongso Menggolo.
Dalam perjalanan, mereka melihat desa-desa di kaki Gunung Lawu mengalami kekeringan, sementara sumber air justru melimpah di pegunungan.
Dua abdi tersebut kemudian diutus untuk membantu mengaliri air ke desa-desa.
Namun saat Dipo Menggolo tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Kalitengah, ia dihadang oleh makhluk besar menyerupai kelabang, bernama Kiongkong.
Terjadilah pertarungan sengit. Dengan hanya seutas janur (daun kelapa muda) yang diikatkan di pinggang seperti sabuk, Dipo Menggolo berhasil mengalahkan Kiongkong.
Karena belas kasih, Kiongkong tidak dibunuh, malah disembuhkan. Sebagai balas budi, Kiongkong membantu membuka batu penghalang dan menjadikan tempat itu sebagai sumber mata air Dusun Plawan.
Kisah ini kemudian diangkat oleh Joko Sunarto, salah satu tokoh desa, menjadi inspirasi penciptaan Tari Sabuk Janur pada tahun 2013.
Sejak itu, tarian ini kerap dipentaskan dalam berbagai festival budaya, baik di Karanganyar maupun kabupaten lain di Jawa Tengah.
“Tari Sabuk Janur sangat menarik untuk diteliti karena menampilkan fenomena transformasi budaya dari lisan menjadi pertunjukan. Ini menuntut kreativitas tinggi dari koreografer agar bisa menggambarkan cerita dalam bentuk gerakan yang menarik,” jelas Kepala Desa Ponco.
Tarian ini ditampilkan secara kolosal dengan melibatkan 10–15 penari, yang memerankan tokoh Kyai Sabuk Janur, Kiongkong, dan pendukung lainnya.
Rias dan Busana dalam Tari Sabuk Janur
Tari ini menggunakan rias karakter dramatis dengan warna-warna mencolok seperti hitam, merah, dan putih.
Baca Juga: Belasan Komposer Muda dan Raja Kirik akan Menguatkan Literasi Musik di Katabunyi Forum 2024!
Riasan ini tak hanya memperkuat penampilan, tetapi juga menjaga kewibawaan dan kesan magis dari para tokoh.
Menariknya, para penari merias wajah mereka sendiri tanpa bantuan perias profesional sebagai wujud gotong royong antarpenampil.
Warna kostum juga penuh makna. Warna kuning melambangkan keceriaan dan kehidupan, merah sebagai simbol keberanian, dan hitam mewakili kebijaksanaan.
Kostum tokoh Kyai Sabuk Janur dan Kiongkong dibuat berbeda, menyesuaikan karakter dan peran masing-masing.
Dengan perpaduan antara nilai sejarah, spiritualitas, dan kesenian, Tari Sabuk Janur tak hanya jadi pertunjukan visual menarik, tetapi juga medium pelestarian budaya lokal yang kuat dan menyentuh generasi muda. (rud)
Editor : Nindia Aprilia