SOLOBALAPAN.COM - Selama ini, pengunjung lebih mengenal Museum Sangiran di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe sebagai destinasi utama.
Padahal, Situs Manusia Purba Sangiran punya lima klaster museum dengan karakteristik dan tema yang berbeda, menawarkan pengalaman sejarah yang kaya bagi pecinta era pra-sejarah.
Penanggung jawab unit Situs Manusia Purba Sangiran, Marlia Yulianti, menjelaskan bahwa masing-masing klaster memiliki keunikan tersendiri.
“Cagar budaya nasional Sangiran punya lima klaster dengan tema dan keistimewaan masing-masing,” terangnya.
Baca Juga: Sendang Gotan, Mata Air Keramat di Klaten yang Diyakini Punya Kekuatan Mistis
Klaster utama adalah Museum Krikilan, juga dikenal sebagai visitor center. Di sini terdapat tiga ruang pamer utama yang menceritakan kekayaan Sangiran, proses evolusi manusia, dan kehidupan Homo erectus.
“Ruang pamer 1 bercerita tentang kekayaan Sangiran, ruang pamer 2 bertema Langkah-Langkah Kemanusiaan, mulai dari awal terbentuknya alam semesta hingga proses penelitian yang masih terus berlangsung. Ruang pamer 3 bertema Masa Keemasan Homo erectus, menampilkan berbagai temuan manusia di Sangiran dan penggambaran kehidupan mereka pada masa lalu,” jelas Marlia.
Total ada sekitar 22.000 koleksi fosil yang disimpan di museum ini.
Bagi yang ingin menyelami sisi lain sejarah Sangiran, bisa mengunjungi Museum Klaster Ngebung.
Museum ini menyoroti awal mula penelitian di Sangiran, menampilkan cerita para peneliti, baik asing maupun tokoh lokal, yang berperan dalam pengembangan situs ini.
Selanjutnya, ada Museum Klaster Bukuran yang mengangkat tema evolusi manusia.
Di sini, pengunjung bisa melihat rekonstruksi tiga tingkatan Homo erectus: Arkaik, Tipik, dan Progresif. Bukuran juga dilengkapi dengan visible storage yang menampilkan beragam fauna purba.
Tak jauh dari situ, ada Klaster Manyarejo. Museum ini spesial karena menyimpan kotak ekskavasi asli yang masih berisi fosil di dalamnya, sesuatu yang tidak ditemukan di klaster lain.
Museum ini juga mengisahkan hubungan masyarakat dan para peneliti, serta mitos seputar fosil yang berkembang di lingkungan sekitar Sangiran.
Terakhir, menyeberang ke Kabupaten Karanganyar, terdapat Museum Klaster Dayu.
Keunikan museum ini terletak pada stratigrafi tanah yang memperlihatkan lapisan demi lapisan zaman di Sangiran. Di sini pula disimpan alat batu tertua yang pernah ditemukan dari lokasi situs.
Dengan beragam tema yang ditawarkan, lima klaster Museum Sangiran bukan hanya memperkaya wawasan sejarah manusia purba, tetapi juga menjadi destinasi edukatif yang layak untuk dijelajahi lebih dalam. (din)
Editor : Nindia Aprilia