SOLOBALAPAN.COM - Di Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Klaten, Jawa Tengah, berdiri sebuah petilasan bersejarah yang terkait erat dengan Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang dihormati.
Di petilasan ini terdapat sebuah batu besar yang diyakini sebagai tempat Sunan Kalijaga melaksanakan salat Subuh, serta beberapa batu bersejarah lain yang dipercaya masyarakat sebagai penanda peninggalan sang wali dalam perjalanan dakwahnya.
Sejarah dan Mitos Batu Besar
Petilasan ini berpusat pada sebuah batu besar berwarna putih kehitaman dengan panjang sekitar 1,5 meter, yang memiliki ceruk di beberapa bagian. Batu ini diyakini masyarakat setempat sebagai tempat Sunan Kalijaga menunaikan salat Subuh ketika melakukan perjalanan dakwah.
Menurut kisah yang diturunkan dari generasi ke generasi, batu tersebut adalah tempat Sunan Kalijaga wudu dan beribadah saat menyusuri wilayah yang kini menjadi Kabupaten Klaten.
Tak jauh dari batu besar ini, terdapat bongkahan batu berlubang yang diyakini sebagai bekas tancapan tongkat Sunan Kalijaga. Selain itu, sebuah batu yang menonjol dari permukaan juga dipercaya sebagai bekas jejak kaki kiri beliau saat meninggalkan lokasi ibadah.
Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah yang tertarik dengan jejak sejarah dan spiritualitas Wali Songo.
Perjalanan Dakwah Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga dikisahkan mulai menyebarkan dakwahnya di berbagai wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur setelah berguru kepada Sunan Bonang. Dalam perjalanannya, Sunan Kalijaga tiba di kawasan Klaten, khususnya Desa Karangasem, Cawas, yang saat itu mengalami kekeringan.
Atas izin Allah, Sunan Kalijaga berhasil menemukan sumber air untuk berwudu dan melaksanakan salat. Sumber air tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu berkah perjalanan dakwahnya.
Dari sana, Sunan Kalijaga melanjutkan perjalanan ke Dusun Kangukan, bertemu dengan Kiai Khatib Banyumeneng, ulama pertama di Cawas. Dalam pertemuan ini, beliau membuat sumur untuk wudu di tengah kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut.
Baca Juga: Misteri Jembatan Timang Wonogiri: Ramai Seperti Pasar di Malam Hari, Menyimpan Aura Mistis
Setelah bertemu sahabatnya, Sunan Kalijaga meneruskan perjalanan hingga sampai di Dusun Sepi dan melaksanakan salat Subuh di atas batu besar, yang kini dianggap sebagai petilasan.
Tradisi Ziarah dan Makna Spiritual
Setiap malam satu Suro, petilasan ini ramai dikunjungi ribuan peziarah dari berbagai daerah, bahkan dari luar Jawa. Di luar hari tersebut, hari-hari seperti Selasa dan Jumat Kliwon menjadi waktu ziarah bagi masyarakat lokal.
Pengunjung yang datang tidak hanya mengenang peran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam tetapi juga meresapi nilai-nilai spiritual yang diwariskan.
Dengan kisahnya yang sarat makna, petilasan batu besar ini bukan sekadar destinasi ziarah, tetapi simbol kehadiran nilai Islam yang berpadu dengan budaya lokal, menciptakan warisan sejarah yang tetap lestari bagi masyarakat sekitar hingga saat ini. (ren/an)