SOLOBALAPAN.COM - Jangan biarkan dirimu tertipu janji manis! Cinta memang bisa membutakan, tapi jangan sampai kepercayaan berubah jadi senjata yang menghancurkan.
Inilah kisah tragis Sipon, 26 tahun, asal Kabupaten Sragen, yang jatuh ke dalam pelukan Temon, 27 tahun, pria dari Kota Solo. Apa yang awalnya terasa seperti kisah cinta sempurna, perlahan-lahan berubah menjadi mimpi buruk yang tak terbayangkan.
Cinta pada Pandangan Pertama, Siapa yang Bisa Menolak?
Sejak awal, Sipon seperti terhipnotis oleh pesona Temon. Pria tampan, penuh perhatian, dan romantis – impian yang jadi nyata! Dari tatapan pertama, hatinya sudah jatuh.
"Dia ganteng, perhatian, dan selalu memuji. Siapa yang nggak luluh?" kenang Sipon saat menceritakan kisah asmaranya kepada Jawa Pos Radar Solo.
Tak tanggung-tanggung, Sipon merasa suaminya memiliki kemiripan wajah dengan penyanyi terkenal Afgan. Terlebih lagi, rayuan manis Temon yang berjanji akan menikahinya membuat hati Sipon semakin terikat.
"Dia serius, makanya aku nggak ragu menikah. Waktu itu umurku sudah 21 tahun, jadi rasanya tepat," lanjutnya penuh keyakinan.
Namun, tak ada yang menyangka, lima tahun kemudian, rumah tangga impian itu akan berubah menjadi mimpi buruk yang memilukan.
Janji Manis yang Pudar, Perselingkuhan di Balik Pintu
Awalnya semua indah. Namun, seiring waktu, Temon yang dulunya romantis dan penuh perhatian, berubah menjadi sosok yang dingin. Kata-kata manis yang dulu selalu ia ucapkan, kini tak terdengar lagi.
Hati Sipon mulai curiga, dan kecurigaan itu terjawab ketika ia menemukan bukti tak terbantahkan: bekas lipstik di leher suaminya.
Saat itu, Temon pulang larut malam, dengan bau parfum wanita yang menyengat. Ketika Sipon melihat bekas lipstik di lehernya, darahnya langsung mendidih.
"Saya langsung emosi, marah besar. Ini sudah kelewatan!" ucap Sipon mengenang momen pahit tersebut.
Namun, bukannya meminta maaf, Temon malah berubah beringas. Dengan amarah tak terkendali, dia mulai main tangan. Kekerasan fisik pun menjadi hal yang rutin.
Sejak saat itu, Sipon tak kerasan lagi di rumah.Akhirnya Sipon pergi dari rumah selama 6 bulan. "Dia sering main kasar, dan saya sudah tak kuat," kisah Sipon dengan nada penuh kesedihan.
Keluarga yang Terpukul, Akhir yang Tak Terhindarkan
Ketika Sipon pulang ke rumah orang tuanya, keluarganya tak bisa menutupi keterkejutan. Wajahnya penuh lebam dan luka. Orang tua Sipon marah besar dan segera menyarankan anaknya untuk meninggalkan Temon.
Tak ada pilihan lain, Sipon mengikuti nasihat mereka. Ia mendatangi Pengadilan Agama (PA) Kelas IA Surakarta untuk mengajukan gugatan cerai.
Beruntung, keadilan berpihak padanya. Gugatan cerainya dikabulkan, dan Sipon akhirnya bebas dari pernikahan yang penuh dengan kepahitan. "Sungguh, pepatah 'habis manis sepah dibuang' benar adanya. Aku menyesal, termakan janji manis dia," ucap Sipon dengan rasa kecewa yang mendalam. (atn/fer/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto