SOLOBALAPAN.COM - Desa Jangglengan, yang terletak di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, dikenal sebagai salah satu desa dengan potensi wisata yang beragam.
Mulai dari pesona alamnya yang memikat hingga wisata spiritual yang mengandung sejarah mendalam, desa ini menarik banyak perhatian wisatawan.
Salah satu daya tarik utama dari Desa Jangglengan adalah Petilasan Paku Buwono IX, raja Keraton Surakarta yang memiliki keterikatan spiritual dengan tempat ini.
Pada zaman dahulu, wilayah Desa Jangglengan merupakan kawasan hutan jati dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dan berukuran sangat besar.
Bahkan, banyak di antaranya yang memiliki diameter lebih dari satu meter. Nama "Jangglengan" sendiri berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang berarti 'buah jati', merujuk pada banyaknya buah dari pohon jati yang berlimpah di hutan tersebut.
Sejarah Petilasan
Cerita sejarah mencatat bahwa Paku Buwono (PB) IX, Raja Keraton Surakarta, menerima petunjuk gaib atau wangsit untuk melakukan semedi di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo.
Selama proses semedi itu, PB IX sering singgah di sebuah batu besar yang terletak di atas bukit di tepian sungai. Batu tersebut kemudian dikenal sebagai tempat bertapanya sang raja.
"Lama-kelamaan, Paku Buwono IX membawa serta orang-orang Keraton dan mereka mulai bermukim di Desa Jangglengan. Desa ini kemudian dijadikan lokasi pembibitan kayu jati," ungkap Sutoyo, mantan Kepala Desa Jangglengan.
Petilasan PB IX ini masih terjaga hingga sekarang dan telah mengalami pembangunan untuk membuatnya lebih menarik bagi para pengunjung.
Pagar bata ekspos dengan gapura yang megah menyambut wisatawan yang datang.
Puluhan anak tangga mengarahkan pengunjung menuju pesanggrahan, tempat di mana sebuah batu datar yang dulunya digunakan PB IX untuk bertapa berada di dalam bangunan joglo tradisional.
Suasana mistis dan angker semakin terasa karena adanya pohon-pohon kamboja yang mengelilingi lokasi tersebut, menambah keheningan di atas bukit.
Tradisi dan Mitos
Meskipun sudah berabad-abad berlalu, tradisi spiritual di Desa Jangglengan tetap hidup. Pada malam Jumat Kliwon, sejumlah warga masih datang untuk melakukan tirakat di Petilasan PB IX.
"Meski keluarga Keraton Solo sudah jarang datang, warga lokal masih rutin berkunjung ke sini untuk tirakat," lanjut Sutoyo.
Aura mistis yang melingkupi pesanggrahan ini semakin kuat dengan adanya berbagai cerita supranatural yang sering terdengar dari warga sekitar.
Salah satu peristiwa mistis yang terjadi di Petilasan PB IX terjadi sekitar dua tahun lalu, bertepatan dengan peresmian sebuah restoran baru bernama De Bengawan Resto yang terletak di sebelah pesanggrahan.
Acara peresmian tersebut diwarnai dengan pagelaran wayang kulit sebagai hiburan utama.
Pada saat acara berlangsung, sekitar pukul 9 malam, sebuah cahaya merah tiba-tiba muncul dan melesat ke langit dari arah pesanggrahan.
"Semua yang hadir di situ melihatnya, termasuk Pak Camat dan Lurah-lurah. Mereka semua terheran-heran melihat cahaya merah itu muncul," ungkap Sutoyo, menceritakan kejadian yang membuat heboh para tamu.
Acara wayang kulit hampir saja dibatalkan karena dalang yang bertugas merasa enggan melanjutkan setelah melihat fenomena tersebut.
Namun, setelah berdiskusi dan mempertimbangkan situasi, pagelaran wayang tetap berjalan sepanjang malam. Menariknya, pada pukul 2 dini hari, cahaya misterius kembali muncul, kali ini berwarna biru, membuat suasana semakin penuh misteri.
Wisata Alam dan Spiritual
Selain daya tarik spiritual, Desa Jangglengan juga menawarkan pesona wisata alam yang memikat.
Sungai Bengawan Solo yang mengalir di dekat petilasan menjadi tempat favorit untuk menikmati ketenangan alam.
Bukit-bukit yang mengelilingi desa ini menawarkan pemandangan indah, membuat desa ini cocok bagi para wisatawan yang ingin melepas penat sambil merasakan nuansa magis dan sejarah yang kaya.
Desa Jangglengan memang tidak hanya menawarkan panorama alam yang menawan, tetapi juga pengalaman spiritual yang tak terlupakan.
Baik wisatawan yang tertarik dengan sejarah maupun pencari ketenangan spiritual akan menemukan harmoni unik di desa ini.
Dengan legenda Petilasan PB IX yang masih hidup dalam cerita-cerita rakyat, Desa Jangglengan menjadi destinasi yang kaya akan makna, penuh misteri, dan memiliki daya tarik tak terbantahkan.
Jika Anda ingin merasakan nuansa sejarah yang mendalam dan aura mistis yang menyelimuti Desa Jangglengan, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi desa yang pernah menjadi tempat bersemadi Raja Paku Buwono IX ini. (kwl/nda)
Editor : Nindia Aprilia