SOLOBALAPAN.COM - Surutnya Waduk Gajah Mungkur (WGM) kembali memicu munculnya fenomena tahunan yang menarik perhatian banyak orang.
Puluhan makam kuno yang berada di dasar waduk mulai tampak ke permukaan, memberikan pemandangan yang unik dan sekaligus mengingatkan pada sejarah panjang wilayah tersebut.
Fenomena ini paling terlihat di kawasan Lingkungan Jaban, Kelurahan Wuryantoro, yang letaknya tidak jauh dari Museum Wayang Indonesia.
Di sini, puluhan makam kuno dapat dilihat secara langsung ketika air waduk mulai surut.
Batu-batu nisan dari makam-makam kuno tersebut terlihat berserakan, sebagian sudah rusak dan terkikis oleh air selama bertahun-tahun.
Heru (60), seorang warga setempat, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan peristiwa tahunan yang kerap terjadi saat musim kemarau tiba.
"Fenomena tahunan, mas. Kalau kemarau, memang sering terlihat makam-makam itu," ungkapnya.
Menurut Heru, makam-makam tersebut mulai muncul sekitar satu bulan terakhir, namun belum semuanya terlihat sepenuhnya karena air waduk yang masih surut secara perlahan.
Fenomena ini juga mengingatkan pada sejarah pembangunan WGM. Makam-makam tersebut diketahui sudah ada sejak sebelum waduk dibangun.
Banyak warga di wilayah tersebut dulunya mengikuti program bedol desa atau transmigrasi sebagai bagian dari pembangunan waduk besar ini.
Heru juga menyebutkan bahwa biasanya, makam-makam ini mulai terlihat sejak Agustus, namun karena musim kemarau kali ini lambat, sebagian besar makam masih tertutup air.
Camat Wuryantoro, Sumardjono Fadjari, membenarkan bahwa fenomena munculnya makam kuno ini adalah hal yang biasa terjadi setiap tahun.
"Setiap kemarau, makam-makam itu terlihat. Tapi baru sebagian mas. Masih ada airnya itu. Jadi belum semuanya kelihatan," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa biasanya, ketika air di waduk semakin sedikit, lebih banyak makam yang akan tampak, dan bahkan kendaraan bisa melintas di sekitar area tersebut.
Namun, dengan kondisi air yang masih ada saat ini, jalanan di sekitar makam belum bisa dilalui.
Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian penduduk setempat, tetapi juga menjadi daya tarik bagi pengunjung yang tertarik dengan sejarah dan keunikan daerah tersebut.
Meskipun makam-makam ini hanya muncul sementara, setiap kali kemarau tiba, mereka selalu menjadi pengingat akan sejarah yang terkubur di bawah perairan Waduk Gajah Mungkur. (al)
Editor : Nindia Aprilia