SOLOBALAPAN.COM - Masyarakat Desa Tegalrejo, Kecamatan Gondang, sebagian masih mempertahankan tradisi bersih desa sekaligus sedekah bumi pada bulan Suro.
Desa ini memiliki tiga lokasi yang dianggap wingit dan memiliki jasa serta manfaat besar bagi warga Tegalrejo.
Tokoh masyarakat Tegalrejo, Heru Setyawan, menyampaikan bahwa bersih desa dan sedekah bumi di Desa Tegalrejo digelar pada Jumat Legi di bulan Suro setiap tahun.
Mantan kepala desa Tegalrejo tersebut menjelaskan bahwa ada tiga lokasi yang dijadikan tempat sedekah bumi, yakni Punden Duri, Punden Kyai Slamet, dan Belik atau mata air Robyong.
“Kegiatan sedekah bumi di ketiga tempat ini adalah kearifan lokal, jangan dipandang sebagai sesuatu yang musyrik atau sirik, tetapi dari dulu memang sudah diajarkan oleh leluhur untuk bersinergi,” terangnya.
Heru menjelaskan bahwa punden-punden tersebut bisa dikatakan sebagai cikal bakal dari Desa Tegalrejo.
Mereka berjasa dalam mengawali adanya Desa Tegalrejo, sehingga tempat-tempat tersebut digunakan untuk menghormati tokoh leluhur desa.
Terutama Belik Robyong, yang merupakan mata air yang tidak pernah surut dan menghidupi masyarakat sekitar dengan airnya yang terus mengalir.
Meski memiliki daya magis tersendiri, Heru menegaskan bahwa ada hal mistis di tempat yang disakralkan tersebut.
“Bukan menakut-nakuti, tapi memang ada. Saya juga pernah mengalami hal mistis tersebut,” ujarnya.
Belik Robyong ini tidak pernah kering meskipun musim kemarau, sehingga menjadi sumber kehidupan yang lestari.
Heru menyebut bahwa mungkin saja ada yang menjaga mata air tersebut secara gaib, agar tidak ada tangan yang berniat jahat yang bisa merusak dan mencelakai warga sekitar.
Heru juga menuturkan bahwa pada waktu-waktu tertentu, ada pejabat yang melakukan ritual kejawen di sekitar Belik untuk kebutuhan spiritualnya.
Sedekah bumi ini diikuti sebagian warga Sragen, yang juga digelar dengan rebutan gunungan hasil bumi dari Desa Tegalrejo.
Heru menegaskan bahwa kegiatan ritual sedekah bumi ini berjalan berdasarkan sinergi dari masyarakat sekitar dan pemerintah desa. (din)
Editor : Nindia Aprilia