SOLOBALAPAN.COM – Bulan Suro sering dianggap sebagai waktu yang sakral oleh masyarakat Jawa.
Banyak orang Jawa menghindari mengadakan hajatan pada bulan ini.
Kesan horor tentang Bulan Suro semakin kuat setelah film "Malam Satu Suro" menjadi populer dan mempengaruhi pandangan banyak orang mengenai bulan ini.
Film tersebut menggambarkan Bulan Suro seolah-olah dipenuhi oleh hantu dan hal-hal menakutkan, serta dianggap membawa sial jika mengadakan hajatan pada bulan ini. Bulan Suro dinilai keramat dan sakral oleh masyarakat Jawa.
KP. Bumimoyo Soeseno Renggodipuro, S.H, M.Si., pemerhati budaya sekaligus Dwija Sangpawara Karaton Surakarta, menjelaskan tentang Bulan Suro.
Dia tidak memungkiri bahwa Bulan Suro bagi orang Jawa adalah bulan yang suci, yang dimaknai sebagai waktu untuk mensucikan diri secara lahir dan batin.
"Bulan ini digunakan untuk mensucikan diri, mawas diri, ada yang bertapa puasa atau Topo bisu, waktu untuk jamasan pusaka, lelampah resik-resik. Jadi, Bulan Suro adalah awal tahun. Mungkin sebelum Suro banyak kejadian, jadi waktunya bersuci untuk menjalani tahun berikutnya. Jadi benar kalau Suro bulan keramat," ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa Bulan Suro berawal dari zaman Mataram Islam Sultan Agung.
Pada saat itu, ada ketertarikan pada agama Islam, sekaligus Sultan Agung juga mempertahankan perhitungan tahun Saka. Sehingga terjadi sinkronisasi antara tahun Saka dengan kalender Hijriah.
"Nama Suro sendiri diambil oleh Sultan Agung berdasarkan peristiwa penting pada hari ke-10, yaitu peristiwa Asyura. Penamaan bulan Jawa sendiri banyak mengambil dari peristiwa penting, seperti Ramadhan yang menjadi Poso karena waktu untuk ibadah puasa," jelasnya.
Purnawirawan polisi yang pernah bertugas di Polres Sragen ini menambahkan bahwa Bulan Suro menjadi bulan yang menakutkan berdasarkan persepsi masyarakat.
"Ketakutan itu muncul dari pikiran kita sendiri. Jalan saja tidak usah takut," terangnya.
Mengenai hajatan di Bulan Suro, sebenarnya tidak ada larangan. Namun, pada Bulan Suro, "Angsar" dianggap kurang bagus untuk mengadakan pernikahan.
Bahkan, ada cerita yang dipahami secara luas bahwa pada Bulan Suro, yang "mantu" adalah Kanjeng Ratu Kidul.
Ada bulan yang dianggap lebih bagus seperti Bulan Besar dalam kalender Jawa.
"Sebenarnya, mengadakan hajatan tidak ada larangannya. Hanya saja, Angsar dihindari. Tidak ada larangan menikah di Bulan Suro," ujarnya.
Selain itu, Bulan Suro sering dijadikan waktu untuk pengesahan perguruan silat karena sebagian perguruan silat juga membawa falsafah Jawa.
Penjelasan mengenai hal ini ada di masing-masing perguruan silat.
Namun, kembali ke kepercayaan bahwa Bulan Suro adalah waktu yang tepat untuk introspeksi diri dan meniti batin.
Sehingga, sering dilakukan ritual pada Bulan Suro, seperti mandi di Pringgondani Tawangmangu atau bersih desa.
Biasanya, kegiatan bersih desa di pedesaan diiringi dengan pagelaran wayang di area pemakaman.
Selain itu, Bulan Suro adalah waktu yang tepat untuk bebersih, seperti jamasan pusaka yang dilakukan pada Bulan Suro.
Demikian juga larap kelambu makam Pangeran Samudro di Sragen yang digelar pada Bulan Suro. (din)
Editor : Nindia Aprilia