SOLOBALAPAN.COM – Saat malam satu suro, terdapat berbagai tradisi yang dilakukan oleh masyarakat jawa khususnya di Kota Solo.
Tradisi tersebut diketahui telah dilakukan secara turun temurun dan hingga kini masih terus dilestarikan.
Salah satunya Hajad Dalem Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta yang berlangsung dengan suasana sakral dan penuh khidmat, Minggu (7/7) mala hingga Senin (8/7) dini hari.
Hal itu tidak terlepas dari filosofi kerbau dan pusaka yang terus lestari sampai saat ini.
Hajad Dalem Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta dimulai sejak Minggu (7/7) petang dengan berbagai persiapannya.
Pada pukul 20.00 WIB prosesi upacara adat dilanjutkan dengan wilujegan yang diikuti segenap sentana dalem dan abdi dalem keraton di Dalem Ageng Keraton Kasunanan Surakarta.
Prosesi wilujengan dengan berbagai puja puji dan doa itu rampung pukul 22.00 WIB.
Selanjutnya prosesi dilanjutkan dengan mempersiapkan berbagai hal sebelum Kirab Pusaka Malam 1 Suro berlangsung.
Dengan tujuh ekor Kebo Bule keturunan Kerbau Kyai Slamet memimpin sebagai cucuk lampah dan diikuti oleh belasan pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta dan iikuti ribuan abdi dan sentana dalem setempat.
Seperti biasanya, momen dimulainya Kirab Pusaka Malam 1 Suro dimulai pukul 00.00 WIB sebagai simbol pergantian tahun dari tahun Ehe menjadi tahun Je 1958.
“Malam 1 Suro ini merupakan momen untuk instropeksi diri, tentang apa saja kekurangan di tahun kemarin kemudian diperbaiki di masa yang akan datang,” harap adik raja Keraton Kasunanan, GKR Wandansari sebelum prosesi kirab berlangsung.
Kirab Pusaka Malam 1 Sura yang dihelat Keraton Kasunanan Surakarta tidak lepas dari keberadaan kelompok Kebo Bule keturunan Kerbau Kyai Slamet dan barisan pusaka yang ikut dikirab dalam upacara adat tersebut.
Kehadiran kerbau dan pusaka itu ternyata punya arti mendalam bagi adat istiadat masyarakat Jawa dan masih lestari sampai hari ini.
“Kerbau disini hanya simbolisasi saja dari kehidupan duniawi. Sementara pusaka simbol dari kehidupan lain (rohani, Red). Orang hidup itu kan harapannya selamat dunia akhirat,” terang dia.
Filosofi dari kehadiran kerbau, sambung dia merupakan bentuk simbolisasi dari adat kebiasaan masyarakat Jawa di masa lampau.
Zaman dulu, kerbau dipandang sebagai aspek kehidupan yang penting bagi masyarakat Jawa, khususnya dalam sektor pertanian.
Misalnya kerbau memainkan peran penting dalam mengolah tanah untuk menghasilkan pangan dan sebagainya.
“Dengan adanya simbolisasi kerbau ini harapannya di tahun ini kita jangan sampai kekurangan pangan,” hemat wanita yang akrab disapa Gusti Moeng itu.
Sementara soal pusaka, sambung dia, bagi keraton pusaka tidak hanya dipandang sebagai sebuah senjata atau hal-hal yang bersiafat kebendaan saja.
Dalam proses pembuatan pusaka itu ada berbagai tirakat dan doa yang tersirat dari para empu pembuat pusaka tersebut yang menyerahkan doa dan harapan mereka pada pada raja.
“Harapan dan doa dari empu-empu pebuat pusaka ini yang diteruskan ke keraton menjadi sebuah harapan baik di masa mendatang. Di dalam pusaka ini tercurah doa dan harapan baik lahir dan batin,” papar dia.
Sekadar informasi, Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta dimulai pada tengah malam dan diikuti oleh 5.000 peserta.
Rute yang diambil masih seperti biasanya dengan jarak sepajang 12 kilometer dengan jarak tempuh antara 2-3 jam perjalanan.
Kirab Pusaka Malam 1 Suro tersebut diperkirakan rampung sekitar pukul 02.00-03.00 WIB.
“Alhamdulillah setapak demi setapak tata cara upacara ganti tahun sudah berjalan dengan baik. Kita harapkan di tahun Je 1958 ini kita semua mendapatkan Ridho Allah,” harap wanita yang menjabat sebagai Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu. (ves)
Editor : Nindia Aprilia