Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Tembang Jawa: Mengupas Pesan dari Lirik Tembang Dolanan Cublak-Cublak Suweng yang Sangat Mendalam bagi Masyarakat Jawa

Nindia Aprilia • Kamis, 30 Mei 2024 | 15:43 WIB
Ilustrasi anak-anak memainkan dan melagukan tembang dolanan Cublak-Cublak Suweng.
Ilustrasi anak-anak memainkan dan melagukan tembang dolanan Cublak-Cublak Suweng.

SOLOBALAPAN.COM - Tembang Dolanan merupakan salah satu karya sastra Jawa yang memiliki nilai-nilai mendalam.

Tembang Dolanan menjadi salah satu media bermain anak-anak di Jawa. Salah satu yang populer dan sering dipakai adalah tembang dolanan Cublak-Cublak Suweng.

Cublak-cublak Suweng adalah salah satu tembang yang mengiringi permainan tradisional anak-anak berasal dari daerah Jawa Tengah.

Dikutip dari jurnal yang berjudul "Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Permainan Cublak-cublak Suweng: Sebuah Studi Pustaka" karya Patra Aghtiar Rakhman, dkk, asal-usul tembang Cublak-Cublak Suweng diciptakan oleh Walisongo yakni sosok tokoh penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Maka dari itu, tembang Cublak-Cublak Suweng mempunyai makna filosofis yang mendalam karena merupakan bagian dari strategi dakwah Walisongo dalam menyebarkan Islam di Nusantara.

Lirik dari tembang Cublak-Cublak Suweng terlihat sangat sederhana dan mudah dimengerti. Namun, bila dianalisis lebih lanjut, ternyata terdapat makna tersembunyi di dalamnya.

Dapat disimpulkan bahwa lirik tembang tersebut memperkuat aspek budaya yang penting bagi bangsa.

Karena tembang dolanan merupakan bagian dari karya sastra Jawa yang dipakai anak-anak untuk bermain namun menyimpan nilai-nilai estetik, musikal, dan kultural di dalamnya.

Berikut kita akan mengupas makna setiap lirik dari tembang dolanan Cublak-Cublak Suweng.

Cublak-cublak suweng

Baca Juga: Primbon Jawa: Ternyata Wong Solo yang Lahir di Weton Kamis Pon Punya Sifat Ini! Salah Satunya Tujuan yang Mulia!

Cublak suweng merupakan kata dalam bahasa Jawa berarti tempat suweng. Kata "suweng"merujuk pada anting perhiasan wanita di Jawa.

Jadi pada lirik ini melambangkan kekayaan dan nilai-nilai yang berharga, seperti perhiasan dan harta benda lainnya yang disimpan.

Suwenge teng gelenter

Suweng masih memiliki arti yang sama yakni perhiasan atau bisa diibaratkan juga sebagai suatu kebahagiaan.

Teng gelenter berarti berserakan bebas atau tak beraturan di sekitar manusia. Jadi dapat dimaknai perhiasan yang berserakan tak terurus atau bisa juga suatu kebahagiaan yang ada di sekitar manusia.

Mambu ketundhung gudhel

Kata "Mambu" berarti baunya yang tercium, "Ketundhung" berarti sesuatu yang dituju, dan "Gudhel" adalah anak kerbau.

Ketiga kata tersebut jika digabungkan dapat dimaknai sebagai orang-orang bodoh sedang mencari harta dengan nafsu, ego, dan keserakahan yang menghalalkan segala cara tanpa melihat baik buruknya cara mereka untuk mendapatkannya.

Pak empo lera-lere

Pak empo dalam hal ini diartikan sebagai laki-laki tua yang ompong dan kata "lera-lere" berarti sikap kebingungan sehingga menengok kanan dan kiri.

Gabungan dari dua kata tersebut dimaknai sebagaimana orang tua yang kehilangan gigi, orang bodoh juga kehilangan arah hidup meskipun kaya raya.

Kekayaan mereka hanyalah kepalsuan, tidak mampu memberikan kebahagiaan yang hakiki karena terjebak dalam hawa nafsu keserakahan mereka sendiri.

Sopo ngguyu ndhelikake

Sopo ngguyu memiliki arti siapa yang tertawa dan kata "ndhelikake" berarti dia yang sedang menyembunyikan.

Lirik diatas diinterpretasikan sebagai orang yang bijaksana dan tidak serakah terlihat tersenyum-sumeleh serta tetap bersikap diam tidak mengikuti perilaku buruk mereka meskipun hidup di tengah sekumpulan orang-orang serakah.

Sir pong dele kopong

Baca Juga: Primbon Jawa: Mengungkap Ramalan Weton Rabu Wage yang Ternyata Punya Sifat Ini! Salah Satunya Irit!

Kata "sir" dimaknai sebagai hati nurani dan "pong dele kopong" memiliki arti kedelai kosong. Kedua kata tersebut bermaksud sebagai hati nurani yang kosong.

Pada intinya untuk mencapai kebahagiaan hakiki, manusia perlu melepaskan dan mengosongkan hati yang obsesi akan kekayaan materi, hidup dengan sederhana, dan bersikap hormat serta empati terhadap orang lain.

Pesan yang dapat kita ambil dari tembang dolanan Cublak-Cublak Suweng adalah jangan menuruti hawa nafsu dalam mengais rezeki namun gunakanlah hati nurani yang bersih.

Karena hati yang bersih akan lebih mudah menuntun kita dalam menemukan jalan kebahagiaan, baik di kehidupan dunia maupun akhirat. (mg2/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#Tembang Jawa #dolanan #makna #Cublak-Cublak Suweng #pesan