SOLOBALAPAN.COM - Tembang dolanan adalah lagu yang dimainkan dengan cara bermain, di mana kata ''tembang'' merujuk pada lagu dan ''dolanan'' menggambarkan aspek bermainnya.
Setiap tembang dolanan tidak hanya menyampaikan hiburan, namun juga terdapat nilai-nilai seperti sopan santun, kebersihan, dan budi pekerti.
Salah satunya yang paling terkenal adalah tembang dolanan Gundul-Gundul Pacul.
Dikutip dari jurnal yang berjudul "Konsep Pendidikan Kepemimpinan Berbasis Tradisi: Telaah Etnopendadogi Pada Tembang Tradisional Gundul-Gundul Pacul" karya Kholid insani, dkk, tembang Gundul-Gundul Pacul adalah sebuah tembang khas Jawa Tengah yang populer di kalangan anak-anak.
Tembang ini muncul sekitar tahun 1400-an yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga.
Anak-anak di Pulau Jawa kerap menggunakan tembang gundul-gundul pacul sebagai bahan olokan terhadap teman mereka yang botak.
Walaupun termasuk tembang dolanan dan terdengar ceria, Gundul-Gundul Pacul memiliki makna yang dalam sebagai pengingat bagi para pemimpin Jawa untuk selalu mengutamakan kesejahteraan rakyat.
Lirik dari tembang "Gundul-Gundul Pacul" berisi nasihat, nilai-nilai moral, tanggung jawab, dan aspek sosialitas, serta menekankan pentingnya menghindari perilaku sombong dan angkuh.
Menurut Hidayah, tembang Gundul-Gundul Pacul mengajarkan nilai budaya bahwa memiliki kekayaan dan posisi tinggi tidak seharusnya membuat kita sombong, sebab kesombongan bisa membawa kehancuran dan memberi pengaruh negatif pada orang lain.
Berikut kita akan membedah makna lirik tembang dolanan Gundul-Gundul Pacul di setiap baitnya.
Gundul-gundul Pacul-cul Gembelengan
Istilah gundul merujuk pada kondisi kepala yang botak atau tidak berambut. Kepala dianggap sebagai simbol kehormatan, sementara rambut dianalogikan sebagai mahkota yang mempercantik kepala.
Lirik tersebut menyebutkan bahwa kepala orang itu masih botak atau plontos, sehingga dapat dipahami bahwa bait awal lirik ini menggambarkan seseorang yang belum memiliki kehormatan khusus.
Pacul adalah singkatan dari "papat kang ucul," yang berarti bahwa kehormatan seseorang terletak pada empat indera, yaitu mata, mulut, telinga, dan hidung.
Jika keempat indra itu terlepas, maka terlepas pula kehormatan seseorang.
Gembelengan diartikan sebagai sikap besar kepala, sombong, dan ceroboh. Oleh sebab itu, bagian awal syair ini memberikan gambaran tentang seseorang yang belum memiliki kedudukan dan bertindak tidak teratur.
Nyunggi-nyunggi Wakul-kul Gembelengan
Nyunggi berarti memikul beban atau tanggung jawab, dan pada bait kedua ini, istilah tersebut merujuk pada seseorang yang telah mengemban tanggung jawab besar atau menduduki posisi pemimpin.
Wakul digambarkan sebagai hubungan simbolis antara masyarakat dan pemimpinnya, yang menunjukkan amanah dan kepercayaan seorang pemimpin kepada masyarakatnya.
Gembelengan merujuk pada ketidakteraturan seseorang, sehingga bait ini menggambarkan sosok yang menjadi pemimpin atau bertanggung jawab atas amanah rakyat.
Meskipun telah diberi tanggung jawab, pemimpin tersebut masih menunjukkan perilaku yang tidak teratur, sombong, dan sembrono.
Wakul Ngglimpang Segane Dadi Sak Latar
Wakul tetap menggambarkan makna yang sama, yakni sebagai simbol dari tanggung jawab yang dijalankan oleh individu atas kepercayaan masyarakat.
Ngglimpang merupakan kata dalam bahasa Jawa yang berarti tumpah atau jatuh.
Kata tersebut menggambarkan ketidakmampuan dalam memenuhi tanggung jawab yang diberikan karena sikap kurang bertanggung jawab atau tidak teratur dalam menjalankan tugas.
Segane Dadi Sak Latar bermakna bahwa amanah rakyat kepada individu yang dipercaya diibaratkan sebagai Sega atau nasi secara harfiah.
Dadi Sak Latar menyiratkan bahwa ketika seoranh pemimpin dipercaya untuk mewakili kepentingan publik gagal menjalankan tugas mereka dengan baik, maka kebutuhan dan kepentingan rakyat akan terabaikan.
Kesimpulannya, tembang Gundul-Gundul Pacul memberikan pesan bahwa sebagai seorang pemimpin harus menjalankan tugas, kewajiban, dan tanggung jawab dengan baik dan benar.
Hal ini juga dapat menjadi salah satu media ajar kepada anak-anak jika menjadi manusia harus amanah dan bertanggung jawab. (mg2/nda)
Editor : Nindia Aprilia