Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Apakah Warga Solo Tau Soal Sejarah Gamelan? Termasuk Adanya Mitos yang Melarang untuk Melangkahi Alat Musik yang Satu Ini!

Nindia Aprilia • Senin, 6 Mei 2024 | 22:28 WIB
Gambar Orang akan melangkahi Gamelan.
Gambar Orang akan melangkahi Gamelan.

SOLOBALAPAN.COM – Gamelan sudah menjadi bagian penting bagi masyarakat Jawa, selama kurang lebih 10 abad Gamelan menjadi seni yang sangat dihargai oleh pelaku maupun penikmatnya.

Dikutip dari buku karya Jennifer Lindsay (1979) yang berjudul “Javanese Gamelan : Traditional Orchestra of Indonesia”, setidaknya terdapat empat corak gamelan yaitu Jawa Tengah, Sunda, Bali, dan campuran Jawa tengah serta bali untuk corak Jawa Timur.

Pada suatu masa kejayaan Hindu, cara berkesenian orang Jawa lebih condong kearah Hindu.

Lalu perubahan signifikan terjadi ketika masuknya pengaruh budaya Islam yang mengganti cara berfikir orang Jawa dalam berkesenian.

Kepercayaam Islam membantu kebudayaan Jawa bertahan dengan seni, misalnya zikir dan terbangan menjadi jenis musik yang berkembang di Puro Mangkunegaran.

Lalu, terjadi sinkretisme Islam dan Hindu di Jawa yang antara lain termanifestasi dalam permainan dan gending gamelan. Juga dalam sikap masyarakat terhadap gamelan.

Bagi masyarakat Jawa dulu, gamelan merupakan sarana untuk menyampaikan doa kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Oleh karena itu, gamelan begitu dihormati oleh pelaku seni nya.

Orang Jawa terdahulu mempercayai untuk dilarang melangkahi Gamelan agar tidak menerima kesialan, selain itu para pelaku seni / penabuhnya juga dilarang berjalan dengan berdiri tegak di depan gamelan, harus jongkok.

”Lutut kita tidak boleh lebih tinggi daripada gamelan. Nanti kualat,” ungkap KRT Imam (58) abdi dalem Keraton Surakarta pada Senin (06/05).

Gamelan diperlakukan sebagai perantara doa. Ini setidaknya dilakukan para abdi dalem di Keraton Solo.

Mereka setiap Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon melakukan meditasi. Bermain gamelan dalam kegelapan sambil merapal doa-doa demi kebaikan dan keberkahan hidup.

Rutinan setiap malem Selasa Kliwon dan Jum’at kliwon dilaksanakan rutin di Keraton Surakarta dengan ubo rampe (sesaji) yang disiapkan seperti menyan, bunga, dan yang lain lain.

Dalam hal ini, Gamelan diperlakukan sebagai perantara doa serta sebagai bentuk izin kepada makhluk lain serta yang utama berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mereka percaya, selain gamelan itu suci dan sakral, juga ada kekuatan lain yang tinggal di sana.

Barang siapa bertingkah tidak sopan terhadap gamelan biasanya akan mendapat celaka / kesialan.

”Pernah suatu hari ada Mahasiswa dari luar daerah mau penelitian seenaknya berjalan di depan gamelan. Tak lama kemudian kesandung dan njungkir golong koming (terjatuh). Kaki di atas, kepala di bawah. Tapi anehnya, roknya itu tetap kebawah, tidak terbuka,” imbuhnya pada Senin (06/05).

Selain Gamelan Keraton, mitos tidak boleh melangkahi Gamelan menyebar ke masyarakat Jawa pelaku seni karawitan.

Disamping mendapatkan kesialan dan celaka, tidak diperbolehkan melangkahi Gamelan disebabkan karena sebagai penabuh maupun orang biasa kita harus menghormati pembuat Gamelan yang bersusah payah membentuk dan menciptakan Gamelan sedemikian rupa.

“Sama mas, saya sendiri kalau ngandani (memberi tahu) anak – anak saya di sanggar juga melarang untuk melangkahi gamelan. Di satu sisi kita harus menghormati empu yang susah payah membuat gamelan dengan tirakat, di sisi lain kalau kita melangkahi Gamelan bisa kesenggol terus jatuh malah laras nya fales. Belum lagi kalau kena wilahan gamelannya, pasti sangat sakit,” ungkap Wisnu salah satu Mahasiswa ISI Surakarta yang memiliki sanggar Karawitan (06/05).

Selain sebagai sarana doa, Masyarakat Jawa pelaku seni Karawitan dan orang-orang Keraton juga menganggap gamelan sebagai sumber nilai kehidupan. Perilaku keseharian masyarakat disandarkan pada falsafah gamelan.

Misalnya dalam menabuh balungan demung saron peking, pengrawit segera memitet (memegang) bilah balungan yang baru saja ditabuh sebelum menabuh bilah yang lainnya.

Tujuannya agar gaung dari bilah saron pertama tidak mengganggu bunyi saron kedua.

Ini bermakna bahwa dalam kehidupan sehari-hari, seseorang harus tahu kapan waktu berbicara dan kapan waktu untuk diam atau menyimak orang lain berbicara.

Dengan demikian, terbangun toleransi dan saling pengertian sehingga kehidupan tidak semrawut. (mg1/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#sejarah #jawa #gamelan #mitos