SOLOBALAPAN.COM - Apakah Anda tahu ada cerita tentang peri cantik di TPU Bonoloyo di Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, yang sering menggoda pengendara?
Salah satu permakaman terbesar di Kota Solo ini dipengaruhi oleh legenda-legenda mistis yang populer di masyarakat, terutama tentang peri cantik yang suka menggoda orang
dilansir dari akun Instagram @misterisolo, peri-peri cantik ini sering menyegat korbannya di pusat Kota Solo sebelum dibawa ke lokasi pemakaman
Terletak tak jauh dari Simpang Joglo. Aroma bunga kamboja yang khas dari tempat pemakaman juga tercium disemua area makam
Banyak yang mengatakan bahwa wanita cantik dengan bau bunga kamboja sering menghentikan korbannya di jalan di beberapa sudut kota Solo ini
Mulai dari pertigaan Kabangan, jembatan Jurug, perempatan Kamar Mati, hingga sejumlah hotel dan pusat perbelanjaan di kota Solo.
Akun Instagram @misterisolo mengatakan, "Para korban yang tidak menyadari, akan terbawa godaan dan romansa untuk menjalin kisah lebih panas dengan wujud yang menyamar itu."
Setelah Matahari terbit, mereka baru sadar jika dirinya ditipu oleh peri itu. Mereka akan terkejut ketika terbangun di dalam area permakaman
akun Instagram @misterisolo juga menambahkan, "Sayangnya, tidak banyak orang yang berani berbicara tentang kejadian ini karena malu dan menutupi aib."
Selain misteri peri cantik, di TPU Bonoloyo juga terdapat mitos "magnet kematian"Dari kisah yang diungkap @misterisolo, beberapa orang sering didatangi lewat mimpi
Mimpi tersebut memberikan pesan untuk mewasiatkan pemakamannya di makam ini. “Kejadian ini sering disebut Magnet Kematian,” ujar dia.
Tak hanya itu, kisah misteri Mbah Wowo tak kalah menyeramkan, ia disebut penunggu permakaman ini.
Mbah Wowo berwujud genderuwo ini sering terlihat dengan mata merah. Beberapa orang percaya bahwa Mbah Wowo adalah sosok yang ahli dalam menebak angka Capjikia
Maka dari itu, Beberapa oknum sering memberi rokok yang menyala, kemenyan, dan kopi hitam kepada Mbah Wowo agar diberikan nomor yang tepat dan menghasilkan uang
Editor : Didi Agung Eko Purnomo