Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Gua Mertan Sukoharjo, Lokasi Laskar Pangeran Diponegoro Menerapkan Strategi Supit Urang dan Tempat Kamuflase Pakubuwono VI

Iwan Kawul • Minggu, 28 April 2024 | 20:19 WIB
Gua Merta, Kecamatan Bendosari dan Sendang Lanang, di kompleks Gua Mertan. (IWAN KAWUL/ RADAR SOLO)
Gua Merta, Kecamatan Bendosari dan Sendang Lanang, di kompleks Gua Mertan. (IWAN KAWUL/ RADAR SOLO)

SOLOBALAPAN.COM - Di Solo Raya terdapat berbagai berbagai spot yang menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat Indonesia.

Salah satu tempat tersebut diketahui berada di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo.

Di desa tersebut ada Gua Mertan yang konon digunakan laskar Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah.

Dilansir dari Radar Solo, Gua Mertan dulunya digunakan sebagai pertahanan alami.

Selain itu, gua ini juga digunakan untuk menerapkan strategi 'Supit Urang."

Hal ini disampaikan oleh Yudi Janaka selaku Pemerhati Sejarah Sukoharjo.

"Musuh yang memaksa masuk. Bisa terjebak dan diserang balik," katanya.

Selain itu Gua Mertan juga membangun suasana kebatinan yang sama dengan pasukan induk Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro pernah menjadikan goa sebagai pusat perjuangannya.

Namanya gua Selarong, gua yang ada di wilayah Bantul.

Selain itu, Gua Mertan juga jadi tempat kamuflase yang cukup ideal bagi Pakubuwono VI.

Dia pun bisa bertemu dengan Kyai Sayidiman dan laskar Diponegoro lainya dengan alibi bertapa .

"PB VI juga bisa membantu perjuangan dengan senjata dan perbekalan lainya," terangnya.

"Meletakkan di gua, cukup aman dan tersembunyi."

"Sayangnya, kondisi Gua Mertan tak begitu terawat."

"Banyak rerumputan dan alang-alang tumbuh liar."

"Sendang Lanang ( untuk mandi lelaki ) dan sendang wedok ( untuk mandi perempuan) pun senasib."

"Perlu perhatian bersama. Karena Gua Mertan merupakan situs sejarah yang mempunyai nilai kehidupan," bebernya.

Gua Mertan ini wilayahnya berada di sekitaran Waduk Mulur. Satu waduk yang berusia cukup tua dan dibangun era Kepemimpinan Pakubuwono VI. 1823 - 1830.

Waduk Mulur mempunyai sejarah tersendiri bagi perjuangan Indonesia.

Karena di lingkungan Waduk Mulur, saat perang Jawa dulu, bermukim tokoh laskar Diponegoro yang bernama Kyai Sayidiman.

Tak hanya itu, perempuan perkasa , penasehat dan panglima Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Ayu Serang pernah jua bergerilya sampai ke Mulur.

"Saya pun menduga, PB VI pernah ke Mulur ataupun sekitarnya," jelas Yudi.

"Dugaan saya ini , berdasar deduktif strategi PB VI ketika mendukung pangeran Diponegoro."

"Dengan dalih bertapa, PB VI banyak mengunjungi daerah - daerah pinggiran untuk mendukung laskar Diponegoro," terangnya.

Secara spesifik, Yudi memperkirakan, kunjungan PB VI ke wilayah sekitar Mulur adalah ke Goa Mertan.

"Ada beberapa alasan untuk itu, Mulur dan sekitarnya memang menjadi basis perjuangan laskar Diponegoro dibawah pimpinan Kyai Sayidiman," lanjutnya.

"Memang banyak ulama yang menjadi tokoh laskar Diponegoro."

"Ini berkat jasa kakek buyut Duta SO7, Kyai Mojo. Panglima utama dan penasehat khusus Pangeran Diponegoro."

"Beliau berhasil mengajak 112 kyai, 31 haji, serta 15 syekh dan puluhan penghulu untuk bergabung ke dalam laskar Diponegoro. Salah satunya ialah kyai Sayidiman," katanya.

Yudi menyebut, penanaman wilayah - wilayah sekitar Mulur pun tak lepas dari eksistensi laskar Diponegoro yang dipimpin Kyai Sayidiman. Mulur misalnya. Dari etimologi "ulur". Bermakna berkelanjutan.

Ada juga Gayam. Karena laskar Diponegoro banyak menemui pohon Gayam di lingkungan tersebut.

Ada pula Jogodengkul ( sekarang Manisharjo ). Musabab tempat tinggal salah satu tokoh laskar Diponegoro yang bernama Ki Jogodengkul.

"Pun Mertan. Suasana kebatinan penamaan Mertan ini sefrekuensi dengan Mulur. Ada affirmasi," jelas Yudi.

"Mertan berasal kata Merto yang berarti menang. Mertan bermakna tempat kemenangan."

"Siapakah yang memberi affirmasi dengan penamaan mertan? PB VI atau Kyai Sayidiman. Boleh jadi elaborasi dari keduanya," ungkapnya.(kwl/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#pakubuwono vi #diponegoro #sejarah #sukoharjo #gua mertan