SOLOBALAPAN.COM - Gending Eling-eling menjadi salah satu gending yang memiliki usia yang cukup tua.
Gending ini termasuk gending umum yang tersebar dan berkembang di daerah Jawa khususnya Solo.
Hal ini dapat diketahui dari jurnal "Mitos Gendhing dalam Upacara Bersih Dusun Dalingan, Kelurahan Macanan, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar" karya Ita Puspita Dewi.
Disebutkan dalam jurnal tersebut, gending Eling-eling bukan berasal dari kalangan kerajaan atau keraton, melainkan dari kehidupan masyarakat.
Gending Eling-eling yang beredar di masyarakat memiliki struktur lagu yang termasuk ke dalam golongan ladrang.
Jadi gending Eling-eling lebih dikenal sebagai Ladrang Eling-eling dengan laras slendro pathet manyura.
Dikulik dari liriknya atau cakepannya, ladrang Eling-eling memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupan manusia.
Dilihat dari nama gendingnya yang diadopsi dari kata "eling", yang memiliki arti ingat.
Ladrang Eling-eling dimaknai sebagai sebuah media yang digunakan manusia agar selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pesan yang disampaikan melalui gending ini yakni kita sebagai manusia dalam suka maupun duka selalu mengingat Sang Pencipta dan jangan pernah menentang apa yang sudah diatur oleh Tuhan.
Karena apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Tuhan dan apa yang buruk menurut manusia belum tentu buruk juga menurut Tuhan.
Tidak hanya mengingat Tuhan yang sudah memberikan nikmat, ladrang Eling-eling juga memberikan pesan untuk selalu ingat jasa-jasa dari orang tua, nenek moyang, dan pahlawan yang sebelumnya sudah berjuang.
Selain itu, ladrang Eling-eling juga bermakna bahwa kehidupan manusia itu bersifat sementara dan semua akan kembali kepada Tuhan.
Maka dari itu, melalui ladrang Eling-eling diharapkan masyarakat senantiasa ingat dan mendekatkan diri kepada Tuhan untuk selalu meminta perlindungan dan anugerah-Nya. (mg2/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro