Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Sejarah Tokoh Eyang Ageng Sutawijaya, Murid Sunan Kalijaga yang Berhasil Mengatasi Jebakan Jin Penunggu Majasto

Reinaldo Suryo Negoro • Rabu, 24 April 2024 | 18:26 WIB
Masjid Tiban peninggalan dari Eyang Ageng Sutawijaya berada di Majasto, Sukoharjo. (DOK. PRIBADI/ SISCA)
Masjid Tiban peninggalan dari Eyang Ageng Sutawijaya berada di Majasto, Sukoharjo. (DOK. PRIBADI/ SISCA)

SOLOBALAPAN.COM - Di Desa Majasto, Kabupaten Sukoharjo terdapat petilasan yang sangat terkenal di masyarakat dengan nama kompleks pemakaman Bumi Arum.

Menurut Pak Sayono (53) sebagai Juru Kunci kompleks Pemakaman Majasto, legenda di desa Majasto ini terkait erat dengan sejarah tokoh Eyang Ageng Sutawijaya.

Beliau disebut-sebut merupakan putra dari Raja Brawiyaya V yang dulunya melakukan dakwah di desa sekitar Sukoharjo.

Ketika Kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan pada tahun 1400, seluruh keturunannya melakukan pelarian ke berbagai wilayah di Nusantara, termasuk daerah Sukoharjo.

Saat dalam pelarian, Eyang Ageng Sutawijaya tidak menampakkan dirinya sebagai anak raja, beliau melakukan penyamaran menjadi rakyat biasa dan memiliki berbagai nama, nama yang paling terkenal adalah Joko Bodo.

Awalnya Eyang Ageng Sutawijaya tidak langsung menuju desa Majasto, tetapi ke desa Tegal Ampel di Klaten hingga memiliki istri dan sempat tinggal beberapa waktu di desa Tegal Ampel.

Selama pelarian untuk menemukan tempat tinggal yang aman, Eyang Ageng Sutawijaya berguru kepada Sunan Kalijaga.

Konon Eyang Ageng Sutawijaya adalah mualaf yang melakukan dakwah pertama kali di daerah Sukoharjo.

Eyang Ageng Sutawijaya juga berguru kepada Ki Ageng Pandanaran yang kini makamnya berada di Bayat, kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten.

Sunan Kalijaga memberi perintah kepada Eyang Ageng Sutawijaya untuk melakukan dakwah di daerah Sukoharjo.

Lalu Eyang Ageng Sutawijaya pergi ke sebagian wilayah di Sukoharjo termasuk wilayah Ponowaren, Taruwongso dan Majasto.

Saat di Majasto, Eyang Ageng Sutawijaya bersinggah di Gunung Majasto, beliau disambut oleh lelembut yang bernama Jin Janilo.

Jin Janilo saat menyambut Eyang Ageng Sutawijaya memiliki niat untuk menjebak menggunakan makanan berupa umbi-umbian.

Tetapi Eyang Ageng Sutawijaya mengetahui niat Jin Janilo bahwa umbi-umbian yang disajikan bukan makanan asli.

Niat Jin Janilo untuk menjebak Eyang Ageng Sutawijaya pun tidak berhasil.

Jin Janilo lantas mengakui kesaktian Eyang Ageng Sutawijaya, dan mengizinkan apabila anak cucunya nanti ada yang tinggal di wilayah Majasto.

Eyang Ageng Sutawijaya sempat mengajak semua keluarganya untuk tinggal di Gunung Lawu.

Tetapi, karena betah tinggal di Majasto, akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di sana sampai akhir hidupnya.

Beliau memiliki peninggalan berupa Masjid Tiban yang sampai sekarang masih berdiri kokoh hanya mengalami renovasi untuk membenahi beberapa bagian bangunan.

Masjid Tiban letaknya tidak jauh dari makam Eyang Ageng Sutawijaya, sekarang masih digunakan untuk beribadah warga sekitar.

Makam Eyang Ageng Sutawijaya yang dijadikan tempat wisata religi membuat di hari-hari tertentu selalu didatangi pengunjung dari berbagai daerah untuk berziarah.

Masyarakat yang tinggal di sekitar kompleks makam Majasto di setiap penanggalan Jawa 15 Ruwah selalu membuat acara selamatan (masyarakat berkumpul dengan membawa makanan masing-masing untuk kemudian berdoa bersama).

"Toko pakaian yang berada disekitar jalanan menuju makam, bisa memiliki hubungan dan bisa dikatakan tidak memiliki hubungan dengan Makam Eyang Ageng Sutawijaya," ungkap Pak Sayono.

"Adanya pertokoan karena perkembangan zaman orang-orang jadi tahu dan memanfaatkan potensi wisata di Majasto," terangnya pada Senin (22/4). (mg3/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#sejarah #jin #Majasto #sunan kalijaga #Eyang Ageng Sutawijaya