Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Hari Kartini Menjadi Peringatan Emansipasi Wanita yang Dilakukan dengan Berbagai Kegiatan, Tak Melulu Soal Adu Outfit!

Nindia Aprilia • Selasa, 23 April 2024 | 02:28 WIB
Banner Hari Kartini CFD Solo.
Banner Hari Kartini CFD Solo.

SOLOBALAPAN.COM – Hari Kartini adalah peringatan untuk mengenang dan menghormati salah satu tokoh emansipasi wanita Indonesia yang paling terkenal, yaitu Raden Ajeng Kartini.

Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dan meninggal pada usia yang masih muda, 25 tahun, pada tahun 1904.

Kartini dikenal karena perjuangannya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan emansipasi sosial.

Peringatan Hari Kartini biasanya dilakukan setiap tahun pada tanggal 21 April di Indonesia. Di Solo terdapat beberapa sekolah yang memilih untuk memajukan peringatan Hari kartini pada tanggal 18 – 19 April.

Hari Kartini sering diperingati dengan berbagai acara dan kegiatan yang bertujuan untuk mengenang perjuangan Kartini serta untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender dan peran wanita dalam pembangunan masyarakat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, emasipasi adalah pembebasan dari perbudakan atau persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti persamaan hak kaum perempuan dengan kaum pria.

Tujuan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarkat dinilai kurang tercermin dalam setiap peringatan hari kartini ini.

Bagaimana tidak, setiap diadakannya peringatan Hari Kartini selalu ada saja informasi dari pihak sekolah yang mengharuskan siswa sekolah untuk memakai pakaian adat saat peringatan hari Kartini.

Hal ini terkadang dianggap sepele yang mengakibatkan kesenjangan sosial terlihat pada siswa.

“Dari mulai SD, SMP, hingga SMA seringkali peringatan hari Kartini menjadi salah satu event untuk ajang pamer outfit dan kebaya mas. Saya sebenarnya kurang setuju, sebab bapak ibuk untuk ngasih sangu (uang saku) aja pas – pas an, belum lagi buat adek dan makan sehari – hari. Jadi saya memilih untuk nggak masuk aja daripada harus nyewa kebaya mending uangnya buat makan sekeluarga,” ungkap salah satu siswi SMA yang enggan menyebutkan nama dan sekolahnya, pada Senin (22/04).

Peringatan hari Kartini yang seharusnya memunculkan kembali semangat perjuangan R.A Kartini menjadi peringatan yang dihindari oleh beberapa siswa, tak terkecuali dengan orang tua yang berjuang untuk membahagiakan anak supaya bisa mengikuti perayaan hari Kartini di Sekolah.

“Kalau saya berusaha dulu mas supaya anak bisa tetep ikut kartinian hari ini (21/04). Dua hari yang lalu saya jualan yang biasa berangkat pagi pulang sore, kemarin – kemarin saya sampai malam supaya bisa menyewakan kebaya untuk anak ikut,” ungkap SU (46) tahun selaku penjual cilok sekaligus orangtua walimurid di salah satu sekolah dasar.

Sebenarnya tidak semua sekolah mewajibkan untuk menggunakan kebaya saat peringatan hari Kartini, namun beberapa sekolah memiliki aturan tersendiri untuk memperingati hari Kartini tersebut.

“Kalau nggak lembur sebenarnya sudah cukup mas untuk nyewa kebaya yang biasa, tapi ada informasi dari sekolah bahwa (kebaya nya) harus bludru. Ya saya nggak mau ngeluh mas, wong ya untuk kebahagiaan anak saya supaya nggak malu besok waktu berangkat sekolah,” pungkasnya.

Dengan begitu, perayaan hari Kartini atau yang kerap disebut dengan kartinian ini bisa untuk evaluasi bersama dalam penerapan aturan kelembagaan dan kehidupan sehari-hari.(mg1/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#wanita #21 April #hari kartini #peringatan