SOLOBALAPAN.COM - Salah satu tempat wisata yang berada di daerah Sukoharjo adalah Sendang Lele.
Sendang tersebut kerap jadi ampiran wisatawan yang hendak berkunjung ke Perbukitan Batu Seribu.
Selain karena lokasinya yang strategis karena mudah dijangkau, Sendang Lele berada di bawah pohon besar yang rindang.
Sehingga saat menyambangi tempat ini akan memberikan kenyamanan, karena berada di tempat teduh sambil duduk bersantai.
Sendang Lele ini terletak di Baseng, Gentan, Kecamatan Bulu, kabupaten Sukoharjo.
Sendang Lele ini adalah sendang atau sumber air yang dihidupi ikan lele berukuran besar (biasa disebut Lele jumbo), ukuran rata-ratanya hampir sekitar 1 meteran atau seukuran paha orang dewasa.
Dilansir dari Youtube Desaku Istimewa, konon Sendang Lele ini adalah tempat yang digunakan Pangeran Truno dan Pangeran Sambernyawa untuk berdiskusi membahas strategi perang melawan Belanda.
Konon menurut warga setempat narasumber dalam youtube Desaku Istimewa, Sendang Lele ini dikeramatkan oleh warga sebab ikan lele yang ada di Sendang Lele ini merupakan jelmaan dari Pangeran Truno.
Banyak cerita, bahwa muncul lele yang hanya memiliki kepala dan tulang tubuhnya tetapi masih hidup dan bisa berenang.
Kemunculan ikan lele yang terlihat tulangnya ini, tidak sembarang muncul, tetapi disaat tertentu dan kepada orang-orang tertentu saja.
Pernah ada warga sekitar desa yang membawa salah satu lele untuk dimasak dan dipotong-potong, ketika lele dipotong warga itu kesurupan lalu mengembalikan potongan lele ke Sendang Lele.
Sendang Lele sudah ada sejak dulu, tetapi mulai dibangun menjadi kolam sudah ada sejak 10 tahun yang lalu.
Berkunjung ke Sendang Lele untuk bersantai kapanpun waktunya tidak jadi masalah sebab tempatnya yang teduh, yang terpenting adalah tidak memiliki niat jahat dan mengganggu ikan lele yang berada di sendang.
"Saya biasanya berkunjung ke sini, tapi tidak tentu waktunya, memang senang melihat ikan lele berukuran besar ini, kalau dari cerita mistisnya jujur saya tidak mengetahui" ungkap salah satu pengunjung dari Desa Ngasinan, Bulu, pada Kamis (18/4). (mg3/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro