SOLOBALAPAN.COM - Ada yang unik dari pemakaman yang terletak di Kampung Tempuran, Kelurahan Bulakan, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo.
Pasalnya, hanya ada dua nisan yang menghuni pemakaman itu.
Dua nisan tersebut, yakni makam Kyai dan Nyai Mochamat Dahar, dalam ejaan huruf Jawa pada makam. Dalam bahasa Arabnya, yakni Kyai dan Nyai Muhammad Dalhar.
Namun, warga setempat lebih mengenalnya sebagai makam Mbah Ahmad Dahar Kakung Putri.
Sosok ini merupakan cikal bakal peradaban di Kampung Tempuran, Kelurahan Bulakan, Kecamatan Sukoharjo Kota.
"Kalau dari cerita para sesepuh, Mbah Ahmad Dalhar ini adalah pengembara trah Pajajaran," jelas Gunendyo yang merupakan Kepala Lingkungan kampung setempat.
"Dalam pengembaraannya, singgah dan menetap di Kampung ini, membangun peradaban di Kampung ini. Ini kan dulunya ditepi sungai Bengawan Solo," katanya.
Kyai Ahmad Dahar dalam membangun peradaban dengan cara menyebarkan agama Islam di Kampung Tempuran, sampai meninggal dan dimakamkan di kampung tersebut.
"Sampai saat ini, masih sering didatangi warga dari luar kota, untuk tirakat. Kebanyakan terkait pekerjaan. Seperti mau melamar jadi PNS, pengusaha," katanya.
Namun, satu hal yang tak kalah menarik dari Kyai Ahmad Dahar adalah kisahnya untuk menampakkan diri ke berbagai orang.
Yang terbaru, Kyai Mochamat Dahar menampakkan diri kepada seorang penjual siomay.
Dikisahkan Gunendyo, penjual siomay itu mengontrak di sekitar Kantor Kelurahan Bulakan.
Kemudian, berjualan di daerah sekitar Kampung Tempuran di Komplek Makam Nyai Pocung.
Lalu datang orang tua, berpakaian hitam celana hitam, model Sunda layaknya orang-orang Baduy.
Sosok tua menyampaikan kepada penjual siomay jika orang tua itu sama-sama dari trah Barat (Trah Pajajaran).
"Orang tua itu mengatakan kepada pedagang siomay itu apakah mau hidup kamu enak? Kalau mau, dikasih (pusaka) alat pijat," jelasnya.
"Akhirnya, penjual siomay itu beralih profesi jadi tukang pijat. Ini benar terjadi."
"Pijatnya juga laris, namun karena sering didatangi oleh sosok orang tua tadi, lalu ditawari wanita-wanita cantik, harta."
"Akhirnya tidak kuat, lalu pulang ke Jawa Barat," ungkap Gunendyo.
Camat dan perangkatnya kemudian melakukan tirakat di makam Kyai dan Nyai Ahmad Dalhar.
Pasalnya, di samping makam akan dibangun sebuah masjid untuk mengenang perjuangan Ahmad Dalhar menyebarkan agama Islam di Kampung Tempuran.
"Banyak dulu sesepuh yang tirakat di sini, sudah dikasih gambaran. Bahwa tempat ini nantinya akan ada gedung lantai 3, ada masjid megah," lanjut Gunendyo.
"Jadi para sesepuh sudah tidak kaget, karena sering dikasih gambaran seperti itu waktu tirakat pada zaman dulu," katanya. (kwl/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro