SOLOBALAPAN.COM – Dalam budaya Jawa, angka bukan hanya soal hitung-hitungan, melainkan terdapat maksud yang terkandung dalam penyebutannya.
Ketika mengamati penyebutan bilangan dalam Bahasa Jawa, terdapat beberapa angka yang polanya berbeda dengan angka lainnya.
Dikutip dari chanel youtube keluarga arif.com dalam bahasa Jawa, angka 11 sampai 19 tidak dibaca dengan kata sepuluh siji.
Melainkan angka tersebut dibaca dengan kata imbuhan belakang welas. Seperti sewelas, rolas, telulas, patbelas, dan seterusnya.
Kata welas ini kemudian digunakan dalam bahasa Indonesia dengan merubah nya menggunakan kata belas.
Arti dari welas ini sehubungan dengan tembang macapat kinanthi yang berartikan tuntun dan khanti.
Dimana tembang anak kecil yang berusia belasan ini membutuhkan tuntunan welas asih yang diajarkan oleh orang tua menurut falsafah Jawa.
Selain itu, angka-angka dalam Bahasa Jawa yang memiliki pola penyebutan berbeda yaitu 21, 25, 50, dan 60.
Dalam bahasa indonesia angka 20 dibaca dengan duapuluh, sedangkan 21 duapuluh satu dan seterusnya.
Tetapi dalam bahasa jawa 21 tidak diartikan rongpuluh siji namun disebut dengan kata selikur.
Maksud dari likur ialah linggih kursi, dalam pengetahuan Jawa diartikan sebagai kerata basa atau kalimat singkatan.
Pada usia ini, seseorang sudah saatnya merintis kerjaan dan kuliah lanjutan.
Selain itu di umur likuran ini menurut kepercayaan orang jawa sudah seharusnya juga untuk segera memilihi pasangan agar tidak salah di kemudian harinya.
Sedangkan 25, dalam bahasa jawa memiliki penyebutan yang berbeda lagi. Jika sebelumnya terdapat kata likur di belakang angka ji,ro,lu sedangkan dalam angka 25 penyebutannya ialah Selawe.
Selawe menurut falsafah jawa berartikan seneng-senenge lanang lan wedok, diumur ini menurut orang jawa merupakan umur yang ideal untuk melangsungkan pernikahan seperti dalam tembang macapat Gambuh yang berartikan jumbuh atau dapat diartikan nyawiji (bersatu).
Setelah selawe, penyebutan angka yang berbeda terdapat pada angka 50. Dalam bahasa indonesia angka 50 disebut dengan limapuluh, sedangkan dalam bahasa Jawa tidak menyebut dengan limangpulu maupun limopuluh melainkan seket.
Menurut falsafah Jawa, seket merupakan sanepan dari seneng kethunan.
Kethu adalah kopyah (peci) yang biasa digunakan untuk beribadah di Masjid, diumur seket (50) ini di Jawa sudah dianggap tua.
Maka dari itu harus mau memperbanyak ibadah dan meninggalkan perilaku yang menyimpang dari agama.
Seperti tembang macapat pangkur yang berartikan gelem mungkur (menghindari) maksiat, dalam hal ini seorang yang sudah tua seharusnya sudah tidak akan memikirkan duniawi tapi lebih memikirkan akhiratnya.
Selanjutnya adalah sewidak / suwidak. Suwidak diartikan sebagai sejatine wis wayahe tindak (seharusnya sudah saatnya meninggal), atau dapat dikatakan sudah saatnya mendekat kepada sah maha kuasa.
Dalam falsafah Jawa, batas umur orang jawa terdapat pada tembang macapat Megatruh yang mempunyai arti megat ruh atau putusnya nyawa dan dilanjutlkan dengan tembang pocung (pocong).
Hal ini sebagai pengingat kita jika di umur yang sudah 60 tahun, alangkah baiknya untuk fokus beribadah kepada sang maha kuasa karena semakin tua hidupnya akan semakin terbatas. (mg1/nda)
Editor : Nindia Aprilia