SOLOBALAPAN.COM – Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) puasa merupakan kegiatan menghindari makan, minum dan sebagainya secara disengaja.
Sementara dalam kamus Al- Munjid puasa adalah menahan diri dari makan dan minum pada waktu-waktu tertentu.
Dilansir dari chanel Youtube Jeda Nulis milik Habib Jaffar, puasa tidak hanya dilakukan oleh umat Islam saja namun juga beberapa umat beragama lain.
Puasa juga diterapkan dalam agama Katholik, Kristen, Hindu, dan Budha juga memiliki tradisi puasa dengan aturan dan syariat masing – masing sesuai agama nya.
Diluar konteks ibadah keagamaan, sebagian masyarakat Jawa (kejawen) juga memiliki berbagai macam jenis puasa yang sering dilakukan oleh orang tua terdahulu.
Tapi terkadang puasa yang dilakukan oleh orang Jawa Kuno dimaknai sebagai salah satu bentuk spiritual metafisik yang punya efek besar terhadap tubuh dan pikiran.
Puasa-puasa tersebut dipercaya mendatangkan banyak manfaat, sesuai dengan apa yang diinginkan melalui doa yang dipanjatkan serta jenis puasa yang dijalankan.
Ada yang ingin agar memiliki ilmu kesaktian, kekebalan, kewibawaan, pengasihan, kesuksesan serta berbagai keinginan lain
Dilansir dari chanel youtube Asli Jawa, berikut 5 contoh puasa kejawen yang dipercaya punya manfaat luar biasa.
1. Puasa Mutih
Dalam ritual ini seseorang akan menjalankan puasa mutih, kemudian dilarang untuk mengonsumsi apa pun selain yang berwarna putih, seperti nasi dan air putih saja.
Puasa Mutih biasanya dimasukkan dalam salah satu bagian dari sebuah ritual panjang. Tujuannya sendiri beragam salah satunya untuk tujuan keberhasilan.
Puasa ini tak terikat waktu, bisa hanya 3 hari saja atau bahkan 40 hari.
2. Puasa Ngableng
Baca Juga: Uniknya Tradisi Pasar Tambak, Pasar yang Tidak Boleh Ada Tawar Menawar di Solo Raya
Bentuk ritual puasa ngableng tidak seperti puasa biasanya yang hanya menahan lapar dari sebelum terbit fajar sampai terbenamnya matahari.
Namun dalam tata cara puasa ini seseorang harus menahan agar tidak makan dan minum selama 24 jam penuh.
Tujuan menjalankan puasa ngableng ialah untuk menguatkan sukma dan jiwa sehingga bisa melunturkan nafsu duniawi.
Biasanya puasa ngableng dilakukan dengan tapa duduk bersila atau posisi semedhi. Puasa Ngableng juga dipercaya dapat mengabulkan keinginan seseorang.
3. Puasa Pati Geni, demi Terkabulnya Keinginan yang Sangat Besar
Tak hanya Mutih dan Ngableng, puasa yang dipercaya bisa mengabulkan hajat adalah Pati Geni.
Secara umum, Puasa Pati Geni dan Ngableng ini hampir sama. Tapi, ada beberapa perbedaan yang cukup ekstrem.
Perbedaan itu terletak pada cara ritual puasa yang diharuskan berdiam diri di kamar ataupun rumah dan tidak boleh keluar sama sekali.
Hitungan puasa Pati geni sama seperti ngebleng yaitu 24 jam, namun dalam puasa pati geni ini seseorang yang menjalankan diharuskan untuk tetap duduk bersila dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar keinginan nya segera terkabul.
4. Puasa Ngeluwang / tapa pendhem
Pasa ngeluwang / tapa pendhem merupakan salah satu puasa unik yang dimiliki oleh budaya Jawa.
Tidak seperti biasa yang hanya menahan makan minum dan berdiam diri, puasa ini justru mengharuskan si pelaku dikubur dalam keadaan tertentu.
Teknis dalam penguburannya bukan seperti mayat, melainkan beberapa bagian tubuh saja yang dikubur.
Namun terdapat beberapa kepercayaan jawa yang mempunyai teknis yang berbeda, ada yang dikubur sebagian badan ada pula yang hanya dikubur mulai leher kebawah hingga kaki.
5. Puasa Weton
Baca Juga: Misteri di Balik Caraka Walik, Dipercaya Sebagai Mantra untuk Menangkal Roh Jahat dan Malapetaka
Dari sekian banyak puasa kejawen yang ada, Weton adalah salah satu yang paling populer dilakukan.
Puasa ini sendiri tidak sering dilakukan karena hanya bisa dikerjakan saat hari kelahiran tiba, seperti Selasa Wage, Minggu Pon dan lain sebagainya.
Puasa ini bisa dilakukan dengan dua cara, mulai dari puasa biasa (subuh sampai magrib) atau pun hitungan 24 jam yang dimulai saat maghrib dan berbuka saat maghrib di hari berikutnya.
Puasa ini sendiri dipercaya membawa manfaat besar. Salah satunya adalah sebagai anti sial dan untuk memperkuat keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. (mg1/nda)
Editor : Nindia Aprilia