Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Menjadi Salah Satu Pahlawan Nasional Indonesia, Inilah Sosok RA Kartini: Tokoh Emansipator Perempuan

Nindia Aprilia • Kamis, 18 April 2024 | 22:06 WIB
Caption Foto dan sumber: R.A. Kartini bersama adik-adiknya Kardinah dan Rukmini.
Caption Foto dan sumber: R.A. Kartini bersama adik-adiknya Kardinah dan Rukmini.

SOLOBALAPAN.COM - Menghitung hari memperingati Hari Kartini pada 21 April 2024 besok, ada baiknya kita mengenal lebih jauh siapa RA Kartini.

Kita semua pasti tahu siapa sosok RA Kartini, bahkan namanya juga diabadikan dalam sebuah lagu nasional.

Bukan sosok perempuan biasa, RA Kartini lahir pada 21 April 1879 dengan nama bangsawan Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat.

Dilansir dari jawapos.com perempuan asal Jepara dan menjadi salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Kartini merupakan pejuang kemerdekaan serta kedudukan kaumnya terutama wanita di Jawa saat itu.

Kartini merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang saat itu menjabat sebagai Bupati di Jepara.

Merupakan putri dari istri pertama namun bukan utama yang bernama M. A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono yang merupakan guru agama di Telukawur, Jepara.

Mulanya, RMAA Sosroningrat merupakan seorang wedana atau pemimpin distrik di Mayong.

Disebabkan peraturan kolonial waktu itu yang mewajibkan seorang bupati memiliki istri seorang bangsawan, maka ia menikah lagi dengan RA Woerjan keturunan Raja Madura. Setelah pernikahan kedua inilah ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara.

Berkat perjuangan Kartini sosok perempuan tak lagi hanya berdiam diri dirumah, mengurus seluruh perkara rumah tangga, serta seluruh urusan suami dan anak.

Perempuan di Indonesia lebih leluasa untuk menjadi apapun dan berkontribusi apa saja untuk kemajuan bangsa.

Sebab dimasa itu, perempuan hanya dianggap sebagai pelengkap kehidupan laki-laki saja.

Perempuan-perempuan di Indonesia memiliki status sosial yang dipandang sangat rendah. Melihat keadaan yang seperti ini, Kartini timbul keinginan untuk mengangkat derajat perempuan.

Kartini juga kerap membaca surat kabar Semarang De Locomotief. majalah-majalah kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie.

Ia pun sering bertukar surat dengan teman-temannya di Belanda, salah satunya Rosa Abendanon yang sangat mendukungnya.

Dengan latar belakangnya yang gemar membaca serta kemampuan berbahasanya yang bagus, Kartini mulai tumbuh pemikiran ala perempuan di Eropa yang lebih maju.

Ia memulai pendidikannya di Europese Lagere School atau ELS hingga usia 12 tahun. Namun sangat disayangkan, ketika itu mimpinya terkubur oleh tradisi bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.

Kartini diharuskan untuk tinggal di rumah untuk dipingit dan dijodohkan dengan calon suaminya.

Hingga pada akhirnya, ia memulai perjuangannya dengan mendirikan sekolah khusus putri di Jepara.

Di sekolah itu, mereka diajarkan untuk menjahit, menyulam, hingga memasak. Ia sering menuliskan surat pada Rosa untuk menaikkan derajat perempuan di Indonesia serta cita-citanya menjadi guru.

Sayangnya, harapan tersebut lagi-lagi harus pupus sebab dia menghembuskan nafas terakhirnya pada 17 September 1904.

Saat itu merupakan hari keempat setelah melahirkan putranya bernama Soesalit Djojoadhiningrat. Jasadnya dimakamkan di Desa Bulu, Rembang.

Guna mengingat dan menghormati perjuangannya, pemerintah menetapkan setiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.

Peringatan Hari Kartini ini mulai diselenggarakan sejak pemerintahan pertama Indonesia, Ir. Soekarno melalui Keputusan Presiden RI No.108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964. (mg10/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#21 April #pahlawan #hari kartini #perempuan