SOLOBALAPAN.COM - Beragam tradisi mulai digelar usai lebaran 2024, salah satunya tradisi syawalan yang ada di beberapa daerah.
Tradisi ini digelar di Bukit Sidoguro, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat kembali digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten pada Rabu (17/4) siang.
Terdapat 25 gunungan ketupat yang dikirab dari gerbang menuju panggung utama dengan jarak sekira 200 meter dan diringi musik hadroh.
Rangkaian tradisi syawalan dimulai dari kirab yang langsung dipimpin Bupati Klaten Sri Mulyani.
Diikuti Wakil Bupati Klaten Yoga Hardaya serta Forkompida Kabupaten Klaten. Termasuk 25 gunungan ketupat yang dikirab dengan cara dipanggul oleh peserta, tepat dibelakang rombongan bupati.
Lalu dilanjutkan dengan tarian selamat datang untuk menyambut kedatangan 25 gunungan ketupat di panggung utama.
Kemudian dilaksanakan doa bersama dan sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) dan Bupati Klaten Sri Mulyani.
Saat sambutan itu tampak ribuan warga yang hadir tak sabar untuk berebut ketupat.
Seusai sambutan, warga mulai mendekati gunungan yang berisikan ketupat, aneka sayur dan buah hingga lauk-pauk khas Lebaran.
Bahkan, ada gunungan ketupat yang berisikan voucher belanja sehingga menarik perhatian warga pula.
Dalam waktu kurang dari 15 menit, 25 gunungan ketupat langsung ludes diperebutkan warga.
Saat perebutan gunungan ketupat itu, Bupati Klaten Sri Mulyani, Wakil Bupati Klaten Yoga Hardaya hingga jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD) melakukan tradisi udik-udik dengan menyebar ketupat berisikan uang ke arah warga.
Ada 1.000 porsi ketupat opor yang juga dibagikan kepada warga dalam tradisi tersebut.
Salah satu warga yang ikut merebut gunungan ketupat, Menik, 55, asal Kecamatan Gantiwarno, Klaten mengungkapkan, dirinya datang bersama suami dan cucunya sejak Pukul 07.00. Saat berebut gunungan, Ia sayuran, ketupat hingga cabai.
“Alhamdulillah dapat rejeki. Rencananya buat masak dan dimakan bersama-sama. Ini bagian dari ngalap berkah. Kalua untuk cabai mau saya tanam,” ucap Menik.
Lebih lanjut, Menik mengharapkan, dengan ketupat yang diperolehnya itu bisa mendapatkan berkah.
Terlebih lagi hendak diolah dan disantap bersama sehingga seluruh anggota keluarganya juga mendapatkan berkah yang sama.
Hal itu yang membuatnya selalu mendatangi tradisi syawalan tersebut setiap tahunnya.
Warga lainnya yang ikut merebut gunungan ketupat, Edi, 44, asal Kecamatan Prambanan, Klaten.
Dirinya datang ke lokasi tradisi tersebut pada Pukul 07.30. Saat berebut, dirinya mendapatkan sayuran dan ketupat.
“Baru kali ini saya datang ke tradisi syawalan di Bukit Sidoguro. Belum pernah berebut ketupat sebelumnya. Untuk sayur dan ketupat akan diolah, mungkin jadi masakan lontong opor,” ujar Edi.
Dirinya cukup senang bisa ikut serta dalam tradisi syawalan tersebut. Edi pun mengharapkan agar tradisi warisan leluhur terus dilestarikan.
Dalam kesempatan itu, Bupati Klaten Sri Mulyani menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat yang hadir memeriahkan tradisi syawalan di Bukit Sidoguro.
Menurutnya, dengan antusias masyarakat yang tinggi menjadikan warisan nenek moyang tersebut dapat terus dilestarikan.
“Kegiatan ini bukan hanya sebagai hiburan, sebagai tradisi, namun juga menjadi sarana silaturahmi dan melestarikan budaya. Saya mewakili Pemerintah Kabupaten Klaten, dalam kesempatan ini juga menyampaikan mohon maaf lahir dan batin,” ujar Mulyani. (ren)
Editor : Nindia Aprilia