SOLOBALAPAN.COM – Indonesia memiliki kebudayaan serta bahasa yang beragam, tidak hanya bahasa dearah namun juga dengan tulisan-tulisan aksara karya nenek moyang terdahulu.
Dilansir dari indonesia.go.id, tercatat ada 12 aksara kuno yang merupakan peninggalan dan bagian dari kekayaan kasustraan budaya Indonesia.
Aksara kuno tersebut diataranya adalah, aksara Jawa, Bali, Sunda Kuno, Bugis atau Lontara, Rejang, Lampung, Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, Mandailing, dan Kerinci (Rencong atau Incung).
Akasara Jawa atau yang kerap disebut dengan hancaraka ini masih bertahan hingga sekarang dalam bidang pendidkan sekolah maupun karya sastra yang berupa tulisan tangan.
Hanacaraka diciptakan tidak hanya sebatas huruf yang digunakan untuk menulis, namun aksara ini juga menyimpan makna yang mendalam bagi masyarakat Jawa pada umumnya.
Sebagai orang Jawa, saat berada di bangku sekolah dasar pasti paham terkait tokoh Aji Saka yang konon disebut sebagai pencipta hanacaraka dalam pelariannya.
Namun jika dikutip dari buku “Makna Simbolik Legenda Aji Saka” karya Slamet Riyadi, Aji Saka bukanlah pencipta Aksara Jawa melainkan pembangun dan penyempurnaan aksara tersebut.
Aksara Jawa ini diperkiran sudah disempurnakan oleh Aji Saka saat abad ke-7.
Mengutip dari buku “Hakikat Ilmu Pengetahuan Budaya” karya Rahayu Surtiati Hidayat. Hanacaraka berasal dari huruf Dewanagari, India.
Huruf Hanacaraka berjumlah 20, yaitu ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, dan nga.
Secara umum, Hanacaraka atau honocoroko dapat diartikan dalam berbagai versi.
Akan tetapi, inti dari aksara Jawa tersebut ialah manusia sebagai utusan wajib untuk menaati Tuhan yang menjadi dalang dalam segala hal di alam semesta.
Ketika manusia dipanggil dan diberi tugas, manusia tidak boleh menolak perintah Tuhan.
Secara umum, hanacaraka dapat diartikan makna nya dalam beberapa versi.
Namun inti dari makna yang terkandung dalam aksara Jawa ini ialah setiap manusia yang diberi utusan wajib melaksanakan perintah Tuhan dan pantang untuk diabaikan.
Berikut salah satu contoh versi yang dikutip dari jurnal UIN Tulungagung berjudul “Dunia Batin Jawa: Aksara Jawa Sebagai Filosofi Dalam Memahami Konsep Ketuhanan” karya Fatkur Rohman Nur Awalin.
Ajaran filsafat hidup berdasarkan akasara Jawa adalah Ha-na-ca-ra-ka berarti ada utusan, yaitu utusan hidup, berupa napas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad manusia.
Da-ta-sa-wa-la berarti menusia setelah diciptakan sampai dengan data yakni saatnya (dipanggil).
Manusia tidak bisa sawala yakni mengelak atau menghindar dari takdirnya. Manusia harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.
Pa-dha-ja-ya-Nya berarti menyatukan zat pemberi hidup (khalik) dengan yang diberi hidup (makhluk).
Maksudnya padha yakni sama atau sesuai, jumbuh, cocok tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan.
Jaya adalah menang atau unggul. Sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan, sekedar menang atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Maksudnya menusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.
Itulah tadi sedikit mengingat tentang sejarah dan makna tentang aksara jawa atau hancaraka yang selalu diajarkan waktu di bangku sekolah. Semoga bermanfaat!. (mg1/nda)
Editor : Nindia Aprilia