SOLOBALAPAN.COM - Masyarakat sering kali mengartikan abon-abon adalah sebuah makanan. Padahal dalam karawitan gaya Solo ternyata memiliki istilah abon-abon yang artinya sangat unik.
Abon-abon merupakan salah satu jenis sindhenan. Sindhenan adalah lagu vokal tunggal dalam karawitan yang disajikan secara melodis dengan mengacu pada gendingnya.
Dikutip dari Jurnal Keteg "Garap Rujak-Rujakan dalam Sindhenan Gaya Surakarta" karya Suyoto, Abon-abon menurut kamus Bausastra Jawa memiliki arti "ubå rampé" yang berarti pelengkap.
Sesuai dengan maknanya tersebut, abon-abon merupakan sindhenan pelengkap dalam karawitan jawa.
Abon-abon memiliki beberapa variasi berdasarkan kata-kata yang digunakan dalam karawitan gaya Solo.
Ada abon-abon yang menggunakan kata klise, pencandraan, identitas seseorang, dan kalimat purwakanthi.
Penerapan abon-abon selalu memerhatikan tempat dan alur melodi balungan yang ada pada gending.
Hal itu akan memengaruhi jumlah suku kata yang harus diterapkan untuk abon-abon.
Abon-abon biasanya terletak pada seleh ringan (padhang) atau pada susunan melodi nggantung (nada sama).
Atau bisa juga pada gatra ganjil atau genap yang tidak terdapat wangsalan dan tidak memiliki rasa seleh (seleh ringan).
Namun tak menutup kemungkinan abon-abon dapat diletakkan pada susunan melodi apa saja, tak harus pada seleh ringan atau nggantung.
Hal itu dapat menyesuaikan garap suatu gending atau menyesuaikan garap ricikan rebab dan gender.
Fungsi abon-abon dalam karawitan yakni sebagai pelengkap yakni sebuah bumbu, penyedap, dan pemanis dalam sajian sindhenan dalam karawitan.
Selain sebagai pelengkap, abon-abon juga berfungsi sebagai penguat melodi atau karakter dalam karawitan yang bertujuan agar gending yang disajikan hidup.
Berikut adalah contoh dari beberapa jenis abon-abon yang ada dalam karawitan gaya Solo.
Abon-abon menggunakan pencandraan :
Wong manis, wong kuning, gonas ganes wicarane, anteng tajem polatane, sripat sripit lambehane
Abon-abon menggunakan sebutan orang :
Rama, ramane dhewe, ya ndhuk, bapakne thole, ya mas
Abon-abon menggunakan kata klise :
Gones, nenes, ya gones, ya nenes
Baca Juga: Mengenal Lebih Jauh Gending Ladrang Wilujeng, Makna dan Kegunaannya dalam Kehidupan
Abon-abon menggunakan purwakanthi swara :
Rujak nanas pantes diwadahi gelas, tiwas-tiwas nglabuhi wong ora welas
Itulah pengertian dari abon-abon dalam karawitan gaya Solo. Semoga bermanfaat!. (mg2/nda)
Editor : Nindia Aprilia