Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Tidak Cuma Mitos yang Mengerikan, Misteri Tentang Candikala yang Berkembang di Masyarakat Solo Juga Punya Maksud Baik

Reinaldo Suryo Negoro • Minggu, 31 Maret 2024 | 21:52 WIB
Candikala dengan sinar yang mencerahkan dan menyimpan misteri. (DOK. PRIBADI/LANGGENG)
Candikala dengan sinar yang mencerahkan dan menyimpan misteri. (DOK. PRIBADI/LANGGENG)

SOLOBALAPAN.COM – Sore hari saat waktu pergantian sore ke malam merupakan saat-saat yang ditunggu oleh anak muda untuk bersantai setelah melakukan kegiatan sehari penuh.

Dilansir dari sosial media X, kata nyore dan nyenja merupakan kata populer di sebagaian kalangan anak muda yang suka nongkrong.

Tapi apakah kalian tahu, senja dengan pancarannya yang indah jika dalam budaya mempunyai mitos yang cukup mengerikan dengan nama candikala/ candikolo.

Dalam pemahaman bahasa Jawa, menurut Om Hao dalam youtube Kisah Tanah Jawa. Candikala berasal dari kata sandyakala.

Sandya berartikan remang – remang atau samar, sedangkan kala berartikan waktu.

Ada pula sebagian orang Jawa manafsirkan jika sandi berartikan kode, sedangkan ala/olo berartikan buruk.

Kepercayaan orang Jawa dahulu, jika sudah tiba waktu surup (sore hari menjelang malam), anak – anak disuruh berbegas untuk kembali pulang ke rumah terlebih jika candikala muncul dari ufuk barat.

“Kalau zaman ibuk dulu, waktu kecil pas ada candikala langsung disuruh masuk rumah sama orangtua," jelas Dwi Lestari (48), warga Solo yang percaya akan misteri candikala.

"Kalaupun masih nekat keluar rumah untuk bermain ataupun melakukan kegiatan lain nanti ditakut-takuti kalau digondol (dibawa) wewe gombel,"

"Jadi mau nggak mau ya harus masuk ke rumah,” tuturnya pada Kamis (28/03).

Beberapa mitos muncul seperti adanya macan manak (macan melahirkan), glundung pringis / glundung pecek mengejar-ngejar, setan – setan keluar dan bersliweran, serta mitos dibawa / diculik oleh wewe gombel.

Mitos ini lambat laun berkembang di masyarakat agar untuk menakuti anak – anak mereka yang masih keluar saat menjelang shalat maghrib.

Shalat Maghrib adalah sholat dengan batas waktu yang paling singkat.

Sedemikian singkatnya, menurut kitab Taqrib jika sholat-sholat lain mempunyai beberapa waktu (fadlilah, jawaz, makruh tanzih dan tahrim dan sebagainya), maka waktu sholat Maghrib hanya satu.

Waktu yang dimaksud adalah mulai terbenamnya matahari sampai waktu yang cukup untuk adzan.

“Dahulu saat saya kecil, setiap candikala selalu diingatkan oleh mbah (kakek) saya untuk segera masuk rumah," terang Arif (21), seorang mahasiswa ISI Surakarta pada Kamis (28/3).

Sampai sekarang pun juga begitu, seperti sudah kebiasaan,” jelasnya.

Kebiasaan ini yang memang sudah ditanamkan oleh sebagian masyarakat Jawa sejak kecil kepada anak cucu mereka.

Di samping menimbulkan mitos yang bertahan sampai saat ini, adanya mitos candikala ini bertujuan baik untuk menyegerakan melaksanakan ibadah.

“Yang saya rasakan sampai sekarang kalau ada candikala itu rasanya udara pengap, berbeda kalau waktu senja biasa," lanjut Arif.

"Untuk membedakannya juga cukup mudah, kalau senja biasa itu cahayanya normal."

"Kalau waktu ada candikala itu cahayanya seperti cerah dan waranya beda,” imbuhnya.

Sebenarnya mitos yang beredar tentang candikala merupakan cara orang tua terdahulu untuk mendidik kita agar bergegas menyudahi kegiatan yang sedang dilaksanakan.

Seperti yang dikutip dari HR Bukhari dan Muslim, "jika malam datang menjelang, atau kalian berada di sore hari, maka tahanlah anak-anak kalian, karena sesungguhnya ketika itu setan sedang bertebaran." (mg1/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#candikala #misteri #solo #ibadah