SOLOBALAPAN.COM – Surakarta dikenal dengan kota budaya, penuh dengan tradisi yang masih melekat dan dijalankan hingga sekarang.
Beberapa upacara tradisi dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa serta sebagai sarana untuk menyatukan perbedaan.
Namun, di era kolonial dulu terdapat satu tradisi yang menyebabkan punahnya macan jawa.
Dikutip dari jurnal Robert Wessing yang berjudul “A Tiger in the heart: The Javanese Rampok Macan”, rampogan macan ini merupakan salah satu rangkaian upacara keagaman untuk menyambut hari raya Idul Fitri dan tahun baru Islam di Jawa khususnya di Solo dan Yogyakarta sekitar abad ke 17-19.
Diyakini asal mula tradisi ini berlaku ketika orang Jawa terdahulu resah terhadap keberadaan macan ini.
Macan dianggap sebagai penyebab kematian hewan ternak dan selain itu beberapa kematian warga juga dikaitkan dengan keberadaan harimau.
Dengan begitu macan Jawa dinilai sebagai binatang pembawa musibah dan kematian, serta dijadikan simbol kejahatan dan marabahaya.
Tapi walau dianggap meresahkan, msyarakat saat itu dilarang untuk membunuh sembarangan.
Macan Jawa hanya diperbolehkan membunuh waktu menyambut hari raya idul fitri lewat tradisi Rampogan Macan ini.
Rampogan sendiri memiliki arti rame-rame (rebutan). Gampangnya, rampogan ini merupakan upacara tradisi yang dilakukan bersama-sama untuk melawan macan.
Peserta upacara tradisi Rampogan ini disebut dengan “Gandek” dan biasanya upacara ini dilaksanakn di alun – alun keraton pada waktu itu.
Gandek yang ikut menjadi peserta Rampogan merupakan orang-orang pilihan yang berjenis kelamin laki-laki, nantinya masing-masing akan memegang senjata tombak.
Alasan upacara tradisi Rampogan ini melibatkan banyak orang adalah agar aura jahat macan Jawa yang dibunuh tidak menyerang satu orang saja, mereka percaya jika diserang secara bersama diharapkan macan yang terkepung tidak akan berani mengganggu manusia lagi.
Dalam upacara tradisi ini terdapat 2 rangkaian acara yang dilaksanakan secara bergantian yaitu Sima maesa dan rampogan macan.
Macan yang digunakan setelah acara Sima Maesa kemudian dibawa ke alun – alun yang sudah dikelilingi oleh para Gandek sebagai hewan target dalam tradisi Rampogan macan.
Para gandek sudah mulai berkumpul saat acara sima maesa berlangsung, mereka sudah menyiapkan berbagai macam tombak yang sudah dilumuri dengan racun supaya cepat melumpuhkan macan.
Ketika macan sudah berada di alun – alun, para gandek yang sudah siap akan membuat kebisingan dari petasan hingga membuat kobaran api agar macan merasa terganggu.
Tradisi Rampogan Macan ini menggunakan berbagai jenis macan untuk target yang dibatai, seperti macan kumbang, macan tutul Jawa, dan yang pasti adalah Macan jawa.
Masyarakat jawa dulunya menganggap jika membunuh macan sama halnya dengan bentuk penyucian dan lambang perlindungan dari setiap kejahatan.
Bahkan rangkaian upcara tradisi rampogan Macan ini dulunya juga digunakan sebagai pertunjukkan untuk menyambut tamu-tamu dari eropa.
Namun pada tahun 1910 tradisi Rampogan Macan ini secara resmi dilarang oleh pemerintahan belanda melalui UU Perlindungan mamalia dan burung liar.
Berdasarkan informasi yang didapat dari sumber-sumber sejarah, tidak ada data yang tepat mengenai jumlah macan yang mati saat dilaksanakan upacara tradisi rampogan di Solo.
Namun, dapat disimpulkan bahwa macan yang digunakan dalam upacara rampogan macan adalah hewan yang berperan sebagai simbol perlawanan terhadap kaum kolonial.
Macan ini disimbolisasi sebagai entitas negatif yang harus dilawan, dan pembunuhan macan dalam upacara ini dapat diterangkan sebagai tumpasan keangkaraan murkaan kolonial. (mg1/nda)
Editor : Nindia Aprilia