Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Tembang Lir-Ilir yang Populer di Masa Kecil Anak Solo, Ternyata Punya Makna Mendalam Tentang Kehidupan

Nindia Aprilia • Jumat, 29 Maret 2024 | 02:13 WIB
Ilustrasi seorang anak kecil yang mengembala Kerbau.
Ilustrasi seorang anak kecil yang mengembala Kerbau.

SOLOBALAPAN.COM – Sebagai masyarakat Jawa pastinya sudah tidak asing dengan lagu atau tembang Lir-ilir yang populer sejak kecil, salah satunya di kalangan orang Solo.

Dilansir dari chanel Youtube Keluarga Arif Com ID, tembang lir-ilir diciptakan oleh Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan nama Kanjeng Sunan Kalijaga.

Berikut lirik dari tembang Lir-ilir karya Sunan Kalijaga.

lir - ilir, lir - ilir tandure wis sumilir

Baca Juga: Menggali Pesan Moral dalam Tembang Gugur Gunung, Tembang Dolanan Masyarakat Jawa yang Populer di Kota Solo

(kipas kipas, tanaman sudah mulai bertunas)

Tak ijo royo yoyo tak sengguh temanten anyar

(berwarna hijau, seperti pengantin baru)

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi

Baca Juga: Mengenal Fungsi Keris Sebagai Kelengkapan Busana Tradisional di Solo, Ternyata Ini Dampak Dari Fungsinya!

(Pengembala pengembala, panjatlah pohon belimbing itu)

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodo tiro

(Walau licin panjatlah, untuk membersihkan pakaianmu)

Dodo tiro dodo tiro kumitir bedah ing pinggir

(pakaianmu pakaianmu, sudah sobek di pinggir)

Dondomono clumatono kanggo sebo mengko sore

(rajut dan tambalah kembali, untuk pertemuan nanti sore)

Mumpung padang rembulane mumpung jembar kalangane

Baca Juga: Ternyata Hampir Sama! Nama Bulan di Kalender Jawa Terispirasi dari Kalender Hijriyah

(Selagi terang rembulannya, selagi masih ada kesempatan)

Yo surak’o oo oo surak hiyo

(Bersoraklah, sorak hiyo)

Tembang lir-ilir ini diciptakan kira kira pada abad ke-16, model dakwah Sunan Kalijaga memang menggunakan karya seni dengan prinsip syiiar “kenek iwak e, gak butek banyune” (dapat ikannya, tapi tidak mengeruhkan airnya).

Islam diajarkan oleh Sunan Kalijaga melalui adat istiadat dan budaya yang ada, tanpa menghilangkan inti dari ajaran islam.

Seperti tembang lir- ilir ini, sunan kalijaga mengaitkan antara nilai – nilai Islam dan tradisi Jawa menjadi satu.

Makna lirik lagu lir-ilir.

Lir-ilir berartikan kipas – kipas, dalam hal ini mengibaratkan seseorang yang kepanasan dan kelelahan akan istirahat terlebih dahulu agar badan kembali segar dan siap menerima ajaran serta nantinya siap melaksanakan perintah dari sang maha kuasa.

Tandure wis sumilir. Berartikan padi nya sudah mulai bertumbuh.

Padi merupakan perumpamaan zaman baru telah lahir, tunas tunas baru yang bagus juga sudah mulai bertumbuh.

Tak ijo royo – royo. Hijau merupakan gambaran tatan sosial masyaakat yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo.

Dalam kata lain jika bibit nya baik maka nantinya negara juga bagus, bibit yang dimaksud adalah kita sebagai generasi penerus bangsa Indonesia.

Tak sengguh temanten anyar. Ibarat semangat dan kebahagian pengantin baru, generasi penerus bangsa ini akan menjadi ujung tombak kemakmuran bangsa di kemudian hari.

Sementara itu, lirik cah angon tersirat makna bahwa diri harus bisa mengendalikan nafsu diri sendiri. Selain itu, cah angon juga dapat diartikan sebagai pemimpin yang dapat mengatur rakyat nya dengan baik.

Dalam lirik penekno blimbing kuwi, buahnya yang berbentuk bintang atau segi lima adalah kiasan untuk Rukun Islam yang berjumlah lima, sholat wajib dan Pancasila.

Lirik selanjutnya lunyu – lunyu penekno. Dalam lirik ini memberi gambaran bahwa memanjat pohon belimbing itu licin dan susah, namun setiap orang yang beragama Islam harus tetap berusaha untuk melaksanakan Rukun Islam.

Dodo tiro dodo tiro kumitir bedah ing pinggir. Dalam lirik inidiingatkan jika perbuatan yang dilakukan mulai sedikit rusak, alangkah lebih baiknya di perbaiki.

Dilanjutkan dengan lirik dondomono clumatono kanggo sebo mengko sore. Seperti kiasan kain yang sobek kecil, terkadang dosa – dosa yang kecil dianggap sepele dan menyebabkan dosa besar hingga lupa terhadap Allah.

Dengan begitu alangkah baiknya untuk segera diperbaiki dengan cara bertaubat dan kembali berperilaku baik sesuai ajaran Islam yang diajarkan.

Sedangkan sebo mengko sore merupakan kiasan untuk nantinya diakhirat supaya kita siap dan sudah bersih atas dosa – dosa yang dilakukan di dunia.

Di akhir lagu, lirik Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane mengingatkan kita agar memperbaiki iman dalam diri selagi bulan masih menyinari bumi dan selagi waktu yang kita miliki di dunia masih banyak. (mg1/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#tembang #Kehidupan #populer #solo