Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Mengenal Musik Noise dari Forum Musik & Dialog Bukan Musik Biasa (BMB) di Solo, Tetap Ramai Penonton Meski Diguyur Hujan!

Nindia Aprilia • Rabu, 27 Maret 2024 | 02:16 WIB
Penampilan Seakar dalam BMB edisi ke-98 di Taman Budaya Jawa Tengah.
Penampilan Seakar dalam BMB edisi ke-98 di Taman Budaya Jawa Tengah.

SOLOBAPALAN.COM – Forum musik dan dialog Bukan Musik Biasa (BMB) rutin dilaksanakan setiap 1x2 bulan, pada hari Senin tanggal 25 Maret 2024 telah memasuki edisi ke-98.

Tema Ya Marhaban Ya Noisan dipilih sebagai sajian dari edisi BMB ke 98 ini dengan berbagai kemeriahannya kemarin di Kota Solo.

Musik noise adalah genre musik yang berokus pada eksperimen dengan suara-suara yang tidak konvensional, termasuk suara elektronik dan distorsi.

Pementasan musik noise biasanya menggunakan peralatan elektronik dan efek untuk menciptakan karya yang mengeksplorasi kekacauan dan ketegangan.

Dalam edisi yang ke 98 ini, Bukan Musik Biasa (BMB) menghadirkan tiga komponis musik noice yang berasal dari tiga daerah yang berbeda.

Penampil pertama Srangan Fajar dari Solo. Kedua ada Rezja Dwi HVFT dai Purwokerto. Yang ketiga ada Seakar yang berasal dari Pacitan.

Karya dari ketiga penampil ini nantinya akan dibahas dan di diskusikan bersama dengan penonton serta pembicara dan moderator.

Pada edisi ini, tim BMB mengundang Wahyu Thoyib sebagai pembicara dan Dani Yanuar sebagai moderator.

“tampaknya para penampil ini memang sangat serius dengan jalan karya dan juga jalan piliannya. Kawan kawan ini nampak sangat menciuntai passion dengan apa yang dilakukan dan sepertinya bukan hanya untuk sekedar mengejar materi atau motif ekonomi saja, tapi musik sebagai bagian integral dari ekspresi mereka. Dan hari ini poin itu yang menurut saya penting dan keren,” ungkap pembicara yang kerap disapa Mas Thoyib, pada hari Senin, (25/3).

Penampilan pertama yaitu dari Srangan Fajar, menyajikkan musik noise yang menggambarkan ekspresi marah dan kerinduan akan suara suara soundscape.

Seperti jangkrik burung yang ingin disampaikan pengkarya kepada penonton melalui bunyi yang mengganggu.

“Setiap part yang disajikan tidak terencana dan mengalir begitu saja. Jadi saya hanya menyampaikan karya sesuai peristiwa bunyi yang saya kumpulkan,” ungkap Fajar.

Penampil kedua Rezja Dwi, sajikan musik noise yang tersusun dari pesan-pesan perasaan yang ingin disampaikan pengkarya.

“Berawal dari foto - foto demontrasi, konservasi, dan lain lain yang di musikal kan, dikumpulkan menjadi satu dan menjadi bunyi yang mewakilkan perasaan,” ungkap Reza.

Penampilan karya ketiga dari Seakar mengangkat tema tentang hiruk pikuk "ibu".

"semakin dewasa saya, semakin banyak hiruk pikuk yang saya alami,” ungkap pengkarya yang berasal dari Pacitan itu.

Bagi dirinya, sumber dari bunyi bisa darimana saja. Jika dalam karya ini, sumber bunyi didapatkan dari pantai yang ada di pacitan.

“Dari acara BMB (Bukan Musik Biasa) ini menambah wawasan saya untuk mengenal banyak musik dari berbagai macam genre dan daerah,” imbuh Mas Thoyib.

Musik Noise telah berkembang menjadi gerakan yang aktif di masyarakat modern saat ini.

Eksplorasi dan memperluas genre melalui performa live, rekaman, serta kolaborasi lintas genre dilakukan oleh para seniman Noise untuk lebih menyebar luaskan kreasi musik noise ini kepada masyarakat modern. (mg1/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#noise #BMB #musik #Forum #solo