Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Memahami Laras dalam Konteks Karawitan Jawa yang Kerap Dipentaskan di Kota Solo! Yuk Simak Informasi Lengkapnya

Nindia Aprilia • Rabu, 27 Maret 2024 | 01:24 WIB
Ilustrasi seseorang memainkan gamelan.
Ilustrasi seseorang memainkan gamelan.

SOLOBALAPAN.COM - Dalam karawitan banyak komponen-komponen penting yang saling berkesinambungan untuk membentuk sebuah estetika.

Salah satunya adalah Laras. Laras merupakan salah satu komponen penting yang ada pada karawitan. Yuk simak makna apa itu Laras!.

Dikutip dari skripsi yang berjudul Mengenal Laras Melalui Proses Belajar Gamelan pada Siswa Sekolah Dasar Al-Islam 2 Jamsaren Surakarta" karya Isti Kurniatun, Laras berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti pertama atau indah menarik hati.

Istilah laras dalam konteks karawitan Jawa dapat dimaknai sebagai sesuatu yang bersifat nikmat untuk diresapi.

Terdapat dua laras dalam karawitan Jawa, yakni laras slendro dan laras pelog. Laras slendro merupakan suatu skala nada dimana jarak antara satu nada dengan yang lainnya memiliki interval yang relatif sama panjang.

Nada yang ada pada laras slendro yakni panunggul (1), gulu (2), dhadha (3), lima (5), dan enem (6).

Dalam laras slendro, terdapat sub laras di dalamnya seperti laras slendro pathet nem dengan nada rendah, laras slendro pathet sanga dengan nada menengah, dan slendro manyura dengan nada tinggi.

Kehadiran sub laras ini memiliki peran yang signifikan dalam konteks penggunaan instrumen gamelan.

Sistem larasan dalam laras pelog dalam karawitan Jawa menggambarkan urutan nada dengan interval yang menyerupai tangga nada diatonis, namun memiliki variasi jarak yang lebih besar antara not-notnya.

Nada yang ada pada laras pelog sama dengan nada-nada yang ada pada laras slendro, namun terdapat nada tambahan yakni nada pelog (4) dan nada barang (7).

Sama halnya dengan laras slendro, laras pelog juga memiliki beberapa sub bab laras yakni laras pelog pathet lima, laras pelog pathet nem, dan laras pelog pathet barang.


Peran laras dalam konteks penggunaan instrumen dapat dilihat dari iringan pagelaran wayang kulit. Dalam pagelaran wayang kulit, larasan pathet nem biasanya digunakan untuk adegan awal atau perkenalan.

Kemudian ketika memasuki adegan masalah dalam cerita diiringi dengan larasan pathet sanga. Untuk adegan klimaks dan penyelesaian masalah biasanya menggunakan larasan pathet manyura.

Laras juga menunjukan suatu suasana dalam gending yang disajikan. Laras slendro biasanya lebih menunjukkan suasana gembira, senang, dan semarak.

Sedangkan laras pelog biasanya menggambarkan suasana sedih, kasmaran, dan khidmat. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berharga untukmu!. (mg2/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#makna #jawa #karawitan #estetika #laras