SOLOBALAPAN.COM - Pernahkah kalian mendengar tentang gending Kutut Manggung? Gending ini adalah salah satu gending yang sangat familiar dalam dunia karawitan jawa.
Tahukah kalian ada makna dibalik gending kutut manggung ini? Yuk simak penjelasannya!.
Gending Kutut Manggung adalah salah satu gending yang diciptakan oleh Ki Narto Sabdo.
Dikutip dari buku yang berjudul "Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk" karya Ahmad Thohari, gending Kutut Manggung adalah sebuah langen swara berahi yang digubah demikian halus dan didalamnya penuh selera estetik yang lahir dari wawasan tentang kehidupan mendasar.
Sederhananya, Kutut manggung adalah representasi simbolis dari dorongan hubungan seksual antara pria dan wanita yang sudah dianggap sebagai suami dan istri dengan maksud mencapai harmoni dalam kehidupan manusia.
Gending kutut manggung menceritakan tentang gairah seksual pria dan wanita. Hal itu dapat dilihat pada garap gaya sindenan pada gending yakni kemayu atau genit.
Terdapat parikan atau pantun gombalan juga dalam liriknya yang mewarnai kemesraan sehingga dapat merangsang hati pendengarnya.
Kutut manggung menjadi salah satu gending yang termasuk dalam golongan gending padintenan.
Gending padintenan adalah gending yang bisa dipakai untuk berbagai acara atau keperluan. Gending Kutut Manggung bisa dipakai sebagai iringan pagelaran wayang kulit.
Biasanya disajikan ketika adegan manyura dalam babak akhir pertunjukan wayang kulit purwa gaya Surakarta.
Selain itu, gending kutut manggung juga sering disajikan dalam klenengan karawitan jawa atau uyon-uyon persembahan untuk tamu sesuai dengan permintaan.
Menurut Rahayu Supanggah, seniman karawitan memandang kutut manggung sebagai gending yang mudah didapat (adhakan) atau gending yang paling sering digunakan untuk berbagai keperluan (srambahan).
Sehingga gending ini termasuk golongan gending yang populer dalam karawitan.
Itulah beberapa fakta menarik tentang gending Kutut Manggung. Semoga dapat menambah wawasanmu, readers!. (mg2/nda)
Editor : Nindia Aprilia