SOLOBAPALAN.COM – Pantas Perdana Triwulan berhasil diselenggarakan oleh Jurusan Tari, di Pendopo ISI Surakarta pada Kamis, (21/3).
Pentas Triwulan ini merupakan pentas yang dilaksanakan setiap 3 bulan sekali di ISI Surakarta.
Pada pentas perdana ini jurusan Tari di ISI Surakarta menampilkan tiga tarian yang sudah lama tidak dipentaskan di internal kampus.
Pentas Triwulan sempat vakum karena pandemi covid beberapa tahun lalu. Namun hal ini tidak membuat turunya semangat para seniman, dosen tari dan mahasiswa tari untuk mewujudkan kembali pentas ini.
“Ya memang program dari jurusan tari yang bertajuk Triwulan, memang ini membuatkan wadah untuk kreatifitas – kreatifitas jurusan tari yang di kampus. Tidak hanya mnutup untuk mahasiswa saja tapi untuk dosen juga bisa,” ujar Kaprodi yang kerap disapa Mas Anggono ini pada Kamis, (21/3).
Dalam pentas perdana Triwulan, disajikan tiga karya tari yakni Tari Watang Keprajuritan, Tari Bedhaya Kidung Gayatri dan Tari Kusuma Jipang, berikut ini penjelasan dari karya tari tersebut:
Karya Tari Watang Keprajuritan
Karya tari Watang Keprajuritan merupakan tari gubahan dari tari Prawiro Watang ciptaan S. Mariadi.
Tari watang keprajuritan digubah oleh Sunarno Purwolelono pada tahun 1984, dan yang berperan sebagai komposer musik adalah Alm. Blacius Subono.
Tari watang keprajuritan menvisualkan keterampilan seorang prajurit dalam mengolah senjata tombak atau watang.
Pada pentas malam ini digarap ulang oleh Bapak Samsuri, S.Kar., M.Sn dan ditarikan oleh 7 penari yang berasal dari mahasiswa ISI Surakarta.
Karya Tari Bedhaya Kidung Gayatri
Bedhaya Kidung Gayatri merupakan sebuah karya yang berangkat dari karya sesaji gayatri pada tahun 2017.
Kemudian karya tari ini dibakukan dalam bentuk Bedhaya pada perhelatan Hari Tari Dunia ke-13 tahun 2019.
Makna Gayatri diambil dari sosok perempuan, cantik, anggun, berwibawa serta memiliki sikap dan kepribadian sebagai putri pemberani kuat cerdas dan penuh kasih.
Karya ini disajikan dalam konsep Bedhaya yang didukung oleh 11 penari dalam satu kesatuan rasa gerak dan musik atau gendhing yang digunakan. Kesebelas penari ini terdiri dari dua dosen dan sembilan mahasiswa.
“Pada tahun 2019 tarian ini sudah pernah dipentaskan, namun malam tadi, tarian ini perdana dipentaskan kembali dengan mengusung semangat kolaborasi antara dosen dan mahasiswa dalam berkarya yang menjadi upaya regenerasi penari dalam karya ini.” ujar salah satu dosen tari sekaligus penari Bedhaya Kidung Gayatri, Maharani Lutfinda Dewi, (32).
Dia juga menuturkan bahwa tarian ini digarap sekitar dua bulan lamanya, dengan format penari baru atau yang berasal dari mahasiswa itu sendiri.
Kemudian yang terpilih dalam tari ini merupakan yang telah siap secara kualitas. Sehingga dalam prosesnya tidak terlalu rumit.
Karya Tari Kusuma Jipang
Karya ini merupakan hasil interpretasi dari karya Tari Penangsang Sutawijaya susunan Didik Bambang Wahyudi yang dipentaskan perdana dalam bentuk Tari Pethilan pada tahun 2006.
Karya tari ini menceritakan seorang pemimpin dengan keteguhan hati dan segala ketulusan untuk melindungi dan mengayomi rakyatnya.
Dengan bulat untuk meneruskan tahta kerajaan yang telah bergeser, juga kekecewaannya untuk membalas dendam kematian Ayahanda, menjadikannya cambuk untuk berjuang sebagai ksatria.
“karya tari kusuma jipang ini dulunya adalah karya TA salah satu mahasiswa S1 dulu waktu tahun 2006, sekarang dia sudah jadi pppk di salah satu instansi,” imbuh Mas Anggono.
Penonton Pentas Triwulan ini datang dari berbagai macam kalangan memenuhi Pendhapa Ageng ISI Surakarta, mulaii dari mahasiswa, masyarakat umum, serta seniman-seniman kondang dari lintas bidang ilmu.
Salah satu yang hadir adalah dalang kondang yang juga sebagai dosen di Jurusan Pedalangan, beliau adalah Ki Cahyo Kuntadi atau yang sering disapa Pak Yoyok.
“Untuk event triwulanan ini, saya sangat apresiatif ada kegiatan yang bermanfaat sebagai wadah berkarya bersama antara mahasiswa dan dosen. Yang jelas ini semakin membuat budaya dan seni bendera ISI Surakarta semakin berkibar untuk maju kedepannya.” pungkas Ki Cahyo Kuntadi, pada Kamis, (22/3).
Ki Cahyo Kuntadi juga menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tetap berlanjut dan tetap kompak dengan visi misi yang makin jelas. (mg1/nda)
Editor : Nindia Aprilia