SOLOBAPALAN.COM – Setiap menjelang bulan Ramadhan, Idul Fitri, menyambut bulan Suro dan hari-hari besar yang lain, orang Solo biasanya datang ke kuburan sanak saudara kita.
Beberapa orang menyebut kuburan tersebut makom. Namun, ada juga yang menyebutnya makam.
Kendati demikian, sebenarnya ada perbedaaan signifikan mengenai pengertian makom dan makam ini.
Kiranya, berikut penjelasan mengenai beda makom dan makam.
1. Makom
Dilansir dari Youtube Kisah Tanah Jawa, makom merupakan tempat atau persinggahan spiritual tokoh agama atau orang yang dianggap suci pada zamannya.
Sama seperti pepunden, tempat ini merupakan tempat keramat yang dibuat sebagai petilasan untuk orang – orang terdahulu.
Tempat ini merupakan biasanya jejak peninggalan atau dulunya tempat untuk bertapa.
Hal ini dijelaskan oleh Aguk Irawan yang merupakan narasumber di kanal Youtube tersebut.
"Gampangnya begini, jika ingin mengerti apa itu makom, makom itu tempat yang dulu digunakan dan dipakai untuk berdoa, bersemedi, sembahyang dan kegiatan spiritual yang lainnya," ungkapnya.
2. Makam
Di sisi lain, makam dalam KBBI daring memuat lima makna. Yang pertama adalah sebagai kubur, dan yang kedua adalah sebagai tempat tinggal/ kediaman,
Selain itu, ada makna ketiga makam sebagai jalan panjang yang berisi tingkatan yang harus ditempuh oleh seorang sufi, yang penuh dengan berbagai kesulitan dan memerlukan usaha yang sungguh-sungguh sehingga tercapai keadaan yang tetap menjadi milik pribadi orang sufi.
Makna yang keempat adalah sebagai pahatan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim a.s. ketika membangun Ka’bah, terdapat dalam Masjidilharam.
Sedangkan, makna makam yang kelima adalah kedudukan mulia (tinggi).
Di sisi lain, ada pengertian makam dari kacamata agama yang disampaikan oleh Nahdlatul Ulama (NU).
Dilansir dari laman NU Online, makam adalah tempat tinggal, kediaman, bersemayam yang merupakan tempat persinggahan terakhir manusia yang sudah meninggal dunia, dan kuburan adalah tanah tempat menguburkan mayat.
Jadi itulah perbedaan makom dan makom belum banyak diketahui oleh beberapa orang.
Diharapkan, setelah menyimak perbedaan tersebut, warga Solo dapat menerapkan penyebutannya dengan tepat. (mg1/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro