Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Perbedaan Gaya Karawitan Surakarta dan Yogyakarta! Yuk Telusuri Lebih dalam Lagi

Nindia Aprilia • Senin, 18 Maret 2024 | 21:40 WIB
Ilustrasi gamelan yang digunakan dalam kesenian karawitan.
Ilustrasi gamelan yang digunakan dalam kesenian karawitan.

SOLOBALAPAN.COM - Surakarta dan Yogyakarta adalah dua pusat kebudayaan Jawa yang sering disamakan oleh masyarakat, namun sebenarnya keduanya memiliki perbedaan gaya kebudayaan.

Perbedaan gaya kebudayaan dari kedua kota ini didasari dari sejarah kedua kerajaan, yakni Keraton Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Awal mula terciptanya perbedaan kebudayaan gaya Surakarta dan Yogyakarta yaitu adanya Perjanjian Jatisari setelah Perjanjian Giyanti.

Dalam perjanjian tersebut dibahas mengenai pembagian wilayah untuk kedua kerajaan yang mana Keraton Kesultanan Yogyakarta mempertahankan tradisi Mataram, sementara Kasunanan Surakarta menciptakan inovasi baru sehingga kedua kerajaan memiliki ciri khas dan gaya tersendiri.

Perbedaan dalam aspek kebudayaan seperti gamelan, tarian, dan busana menandai kedua kerajaan yang memiliki entitas budaya yang berbeda.

Dari segi fisik, ukuran gamelan Surakarta cenderung lebih kecil dibandingkan gamelan Yogyakarta.

Gamelan Surakarta memiliki ukuran yang lebih rumit dengan motif naga dan sulur-sulur tanaman, sedangkan gamelan Yogyakarta diukir lebih sederhana menggunakan motif daun-daunan atau polos.

Perbedaan juga dapat dilihat pada jumlah bilah saron slendro, gamelan Surakarta memiliki 7 bilah sedangkan gamelan Yogyakarta hanya memiliki 6 bilah.

Selain itu pada gamelan Yogyakarta terdapat instrumen bonang panembung, kenong japan, bedug, dan senar drum yang tidak dimiliki gamelan Surakarta.

Tetapi perbedaan yang paling mencolok dari kedua gaya karawitan tersebut adalah ekspresi yang dihasilkan dari permainan gending yang disajikan.

Karawitan gaya Surakarta cenderung menghasilkan nuansa yang lembut yang dapat dilihat pada gending-gending ketawang dan ladrang.

Berbeda dengan karawitan gaya Yogyakarta yang bersifat heroik dan energik dari gending-gending lancaran dan soran nya.

Ekspresi yang dihasilkan ini pun terpaut karena sejarah bahwa dulunya musik gamelan di Keraton Kesultanan Yogyakarta digunakan sebagai iringan latihan prajurit untuk perang sehinggu gending-gending gaya Yogyakarta memiliki sifat yang membangun semangat.

Dari segi pola tabuhan juga terdapat beberapa perbedaan yakni pada pola tabuhan saron penerus.

Pada gamelan gaya Surakarta, pola tabuhan saron penerus berada di belakang balungan yang disebut nginthili atau ngereni.

Sedangkan pada gaya Yogyakarta, pola tabuhan saron penerus berada di depan nada dasar balungan yang disebut ndishiki.

Garap kendang yang ada pada gaya Surakarta memiliki pola kendangan thung (p) dan dhah (b) yang lebih banyak dibandingkan dengan gaya Yogyakarta yang lebih banyak pola kendangan tak (t).

Demikian beberapa perbedaan yang dapat dirangkum. Semoga dapat menambah wawasan kesenianmu, readers!. (mg2/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#kebudayaan #sejarah #yogyakarta #jawa #karawitan #surakarta