SOLOBALAPAN.COM – Kota Solo erat kaitannya dengan Warisan budaya seni pertunjukan serta ritual dan perayaan yang melimpah.
Sebagai penerus dinasti Mataram, Mangkunegaran merupakan salah satu pusat pertumbuhan dan pengembangan kebudayaan Jawa, guna melestarikan karya seni yang telah diciptakan oleh para leluhur.
KGPAA Mangkunegara I (1757-1795) merupakan pemegang tahta pertama di Mangkunegaran. Beliau memiliki keahlian dalam bidang seni karawitan.
“Gamelan di MN (Mangkunegaran) itu ada tiga. Cara balen ada 1 perangkat. Kodok Ngorek juga satu perangkat. Dan monggang nya ada dua perangkat”, ujar Yulianto penabuh gamelan pakurmatan Mangkunegaran.
Gamelan pakurmatan ini biasa rutin di tabuh saat hari Sabtu, namun saat bulan suci ramadhan tiba pementasan atau kegiatan rutinan ditiadakan terlebih dahulu.
“Biasanya hari Sabtu (ada kegiatan). Pisowanan Sabtu namanya, tapi kalau puasa pantangan ditabuh sampai malam 21 (bulan) Ramadhan,” imbuhnya.
Dilansir dari puromangkunegaran.com gamelan pakurmatan yang dimiliki oleh Puro Mangkunegaran memiliki kesistimewaann tersendiri.
Selain rutinan di hari Sabtu, gamelan pakurmatan biasanya digunakan untuk menyambut tamu penting yang berkunjung ke Puro Mangkunegaran.
Sementara, gamelan Kyai Udan Asih dan Kyai Udan Arum ketika itu ditabuh sewaktu terjadi masa kekeringan dan diiringi doa bersama agar hujan turun.
Gamelan Kyai Mardiswara memiliki keunikan karena tabung gamelan terbuat dari kaca kristal yang berasal dari Jerman.
Gamelan pusaka dan legendaris itu disimpan di bangunan Pendhapa Ageng, kemudian terdapat gamelan Kyai Kenyut Mesem, Kyai Seton, dan Kyai Lipur Sari.
Kyai Lipur Sari merupakan gamelan terbaru yang ditabuh setiap hari Rabu untuk mengiringi latihan tari dan seni pertunjukan bagi wisatawan.
Gamelan berikutnya bernama Kyai Seton. Gamelan ini berumur 100 tahun lebih. Kyai Seton ditabuh pada hari Sabtu untuk mengiringi upacara- upacara adat.
“Gamelan Pakurmatan di sini (Mangkunegaran) punya nama. Yang cara balen namanya Kyai Baswara, diperkirakan itu buatan era (kerajaan) Demak. Terus (gamelan) Kodok Ngorek, (namanya) Kyai Pamerdasih. Kalau untuk yang (gamelan) Monggang, ada Kyai Segara Windu dan Kyai Sengkang Turunan” jelas Yulianto. (mg1/nda)
Editor : Nindia Aprilia