Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Perjalanan Sugeng Nugroho yang Tak Berdarah Seniman, Namun Bisa Jadi Dalang Hingga Penulis Naskah di Berbagai Event Besar

Nindia Aprilia • Sabtu, 16 Maret 2024 | 02:15 WIB
Ilustrasi Pertunjukan Wayang.
Ilustrasi Pertunjukan Wayang.

SOLOBALAPAN.COM - Walaupun Sugeng Nugroho atau yang akrab di sapa Sugeng ini tidak terlahir dari darah seniman. Namun, sedari kecil ia sudah menyukai kesenian terutama seni pedalangan.

Berawal dari Sugeng Dosen ISI Surakarta sekaligus penulis, pengamat, dan kritikus pedalangan ini yang menyukai wayang sejak sebelum menginjak SD (Sekolah Dasar).

Ia belajar dalang kepada seorang mantan abdi dalem Langenpraja Mangkunegaran bernama Atmidimanto, tepatnya berada di Wonogiri tempat tinggalnya dulu waktu kecil.

Setelah berlatih dan menekuni dunia pedalangan, ia pertama kali pentas pada saat kelas lima SD di acara expo Lomba Desa tingkat Karisidenan Surakarta.

Sejak saat itulah ia mulai sering pentas pada setiap pergelaran wayang kulit di daerah Wonogiri dengan dibantu oleh berbagai dalang.

Biasanya ia muncul pada saat Mucuki yaitu pementasan tambahan sebelum pergelaran wayang kulit yang sesungguhnya.

Dari SMP hingga menginjak pendidikan sampai ke S-3 jurusan yang ia ambil masih berhubungan dengan kesenian.

Namun, pada saat ia lulus S-1 di ASKI Surakarta atau yang sekarang telah menjadi ISI Surakarta ia memutuskan tidak lagi menjadi dalang profesional.

Namun ia lebih menekuni sebagai penulis, pengamat, dan kritikus pedalangan.

"Sejak lulus S-1 ASKI Surakarta (ISI Surakarta) saya tidak lagi menjadi dalang profesional. Namun, saya lebih menekuni sebagai penulis, pengamat, dan kritikus pedalangan," jelasnya.

Pada saat masih menjadi dalang ia sudah pentas diberbagai acara, seperti khitanan, resepsi pernikahan, dan pelepasan nazar. Selain di Solo Raya, ia juga pernah pentas di luar Jawa.

Alasan ia berhenti menjadi dalang profesional bukan tanpa sebab, ia mempunyai prinsip bahwa jika hanya menjadi dalang biasa menurutnya percuma.

Baginya, jika ingin menjadi dalang harus berada di atas rata-rata dalang lain. Artinya mampu menginovasi pertunjukan wayang sesuai dengan zamannya, tetapi tidak larut pada selera pasar.

Sementara itu, ia mengaku belum bisa mengikuti selera pasar, bukan karena tidak mampu mengikuti, melainkan ia kurang setuju untuk mengikuti selera pasar yang harus mengorbankan idealismenya.

Walaupun ia sudah tidak menjadi dalang, ia tuangkan ide-idenya lewat naskah dalang yang ia tulis.

Beberapa naskah karangannya pernah dipentaskan oleh Alm. Ki Manteb Soedharsono, Alm. Susmono, dan Ki Warseno Slenk.

Salain itu naskah yang ia buat pernah menjuarai pada Festival Dalang Indonesia di Taman Budaya Jawa Tengah pada tahun 2004.

Naskah tersebut berjudul "Cupu Manik Asthagina" yang disajikan oleh Ki Enthus Susmono.

Ia menulis naskah, karena ada yang memesannya, dalang-dalang profesional dan pagelaran-pagelaran yang bersifat khusus, seperti festival atau acara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang biasa memesan naskah tulisannya.

"Saya bersedia menyusun naskah jika untuk event-event besar dan dalang penyajiannya juga harus dalang populer tidak asal dalang," jelasnya. (Mg4/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#event #dalang #penulis #naskah #seniman