SOLOBALAPAN.COM - Tari Bedhaya Anglir Mendung merupakan sebuah warisan budaya dari Keraton Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, yang disebut menyimpan misteri bisa mendatangkan hujan.
Tarian yang kaya akan makna dan keindahan ini memiliki asal-usul yang dianggap sebagai bagian penting dari warisan budaya Jawa.
Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Solo, Bedhaya Anglir Mendung seringkali dipentaskan dalam upacara-upacara istimewa di Puro Mangkunegaran.
Upacara-upacara istimewa yang dimaksud, antara lain, perayaan pernikahan keraton, upacara kelahiran, atau peringatan-peringatan penting lainnya.
Tarian ini melibatkan gerakan-gerakan yang lemah gemulai dan halus, dengan langkah-langkah yang mengalir seperti awan mendung.
Dengan musik gamelan yang khas dan penggunaan kostum yang megah, tarian ini menciptakan suasana yang anggun dan mistis bagi para penontonnya.
Tarian Anglir mendung diiringi menggunakan gamelan Kyai Kenyut Mesem.
Pada tahun 1790 Masehi hingga masa pemerintahan KGPAA Mangkunagoro III tahun 1835 Masehi.
Raden Mas Garendhi di Kartasura memperingati penobatan raja setahun sekali dengan selalu memperdengarkan Gendhing Ketawang Alit Anglir Mendhung sebagai pelengkap saat sesi upacara berlangsung.
Berkaitan dengan itu, Gendhing Ketawang Alit Anglir Mendhung dipilih untuk mengiringi Tari Bedhaya Anglir Mendhung dengan wujud garap Gendhing Kemanak.
Gendhing tersebut satu zaman dengan Gendhing Ketawang Ageng yang telah ada sejak masa Penembahan Senapati tahun 1575 Masehi.
Rama (25) sebagai salah satu penabuh Gamelan Praja Mangkunegaran pun memberikan pandangannya mengenai Tari Bedhaya Anglir ini.
“Bedhaya Anglir Mendung juga mengandung makna filosofis yang dalam," kata Rama.
"Secara simbolis, gerakan-gerakan dalam tarian ini menggambarkan perjalanan manusia dalam mencapai kedamaian batin dan kesucian jiwa."
"Penari-penari yang mempersembahkan tarian ini dianggap sebagai duta-duta spiritual yang menghubungkan dunia manusia dengan alam semesta dan kekuatan-kekuatan gaib,” jelasnya.
Saat peringatan jumenengan KGPAA di setiap tahunnya, masyarakat Solo dan sekitarnya selalu mewanti – wanti terjadinya hujan lebat.
Pasalnya, ada tari Bedhaya Anglir Mendung yang digelar dalam peringatan jumenengan.
Bahkan, peristiwa turunnya hujan usai Bedhaya Anglir Mendung ditarikan ini terjadi pada sesi latihan.
Kiranya, demikian yang yang dituturkan oleh Eko (56) yang merupakan warga sekitar dan telah menjadi saksi misteri ini berkali-kali.
“Ya kalau waktu jumenengan di Puro (Mangkunegaran) setahu saya ada latihan tari bedhaya Anglir Mendung pada jam – jam tertentu pasti hujan, itu sedari saya kecil selalu begitu," jelasnya.
"Saat latihan belum dimulai (cuacanya) panas, sedangkan saat latihan dimulai langsung mak bress (langsung hujan),” terang Eko.
Dengan demikian, Bedhaya Anglir Mendung tidak hanya merupakan sebuah pertunjukan seni yang memukau secara visual dan auditif.
Tarian tersebut juga merupakan sebuah ritual sakral yang memperdalam hubungan antara manusia dan alam.
Keberadaan tarian ini tidak hanya memperkaya warisan budaya Jawa, tetapi juga mempertahankan kearifan lokal yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan keindahan estetis. (mg1/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro