SOLOBALAPAN.COM - Sadranan menjadi salah satu kegiatan tradisi yang dijalankan saat bulan suci ramadhan.
Salah satu sadranan yang kerap diselenggarakan oleh masyarakat yakni di makam Pracimaloyo, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura tahun ini sepi peziarah.
Moment sadranan ini menjadi salah satu cara memperoleh rezeki yang dilakukan dengan pembersihan makam.
Namun siapa sangka, tahun ini antusiasme masyarakat untuk ikuti sadranan alami penurunan dan terbilang cukup lesu.
Bagi warga sekitar TPU Pracimaloyo, menjadi pembersih makam sudah menjadi rutinitas pekerjaan sehari-hari.
Namun ada juga yang menjadikannya sebagai pekerjaan musiman, semisal saat Sadranan atau pasca lebaran.
Sumarni, 56 salah satu dari puluhan warga setempat yang sehari-hari mengais rejeki sebagai pembersih makam mengatakan, pasca Covid-19 hingga sekarang ada penurunan pendapatan lantaran peziarah yang datang tidak ramai seperti tahun- tahun sebelumnya.
"Sadranan sekarang sepi yang meminta jasa pembersih makam. Ramai peziarah itu kalau pas lebaran. Banyak yang datang berombongan," kata Sumarni, Selasa (12/3).
Kata dia, menjelang Ramadhan, 3 hari lalu warga mulai ramai berziarah ke TPU Pracimaloyo.
Para peziarah yang datang ada yang membawa sapu, buku doa, dan kembang tabur.
“Hanya saja keramaiannya tidak seperti saat sebelum korona (Covid-19). Sekarang sehari bisa membawa pulang uang Rp 50 ribu sudah Alhamdulillah," ujar Marni yang mengaku sudah sejak lama mencari rejeki sebagai pembersih makam.
Senada, Pandiyo, 45 warga setempat mengungkapkan, Sadranan tahun ini tidak seramai seperti tahun sebelumnya.
Ia dan beberapa warga lain sesama pembersih makam lebih banyak duduk menunggu peziarah yang akan datang.
"Puncak sadranan itu biasanya dua hari sebelum Ramadhan. Dulu rata-rata dalam dua hari itu bisa mendapat uang antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Sekarang Rp 100 ribu saja susah sekali," pungkasnya. (kwl)
Editor : Nindia Aprilia