Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Paguyuban Santiswara Larasmadya "Wening Ati" Salah Satu yang Masih Mengeksiskan Kesenian Akulturasi Budaya Jawa dan Islam di Solo

Nindia Aprilia • Senin, 11 Maret 2024 | 21:37 WIB
Paguyuban Santiswara Larasmadya Wening Ati yang sedang Tampil di Salah Satu Acara.
Paguyuban Santiswara Larasmadya Wening Ati yang sedang Tampil di Salah Satu Acara.

SOLOBALAPAN.COM - Kebudayaan - kebudayaan yang ada di Solo masih terus dilestarikan dan eksis di kalangan masyarakat.

Salah satu cara yang dilakukan yaitu dengan mendirikan paguyuban kebudayaan guna melestarikannya.

Seperti yang telah dilakukan oleh salah satu dosen ISI Surakarta program studi Karawitan yaitu Waluyo Sastro Sukarno atau yang akrab dipanggil dengan Waluyo.

Waluyo adalah salah satu orang yang tetap mengeksiskan kebudayaan Jawa dan tetap melestarikannya. Ia adalah pendiri Paguyuban Santiswara Larasmadya Wening Ati.

Secara etimologi Santiswara berasal dari kata Santi dan swara. Santi memiliki arti doa, sedangkan swara memiliki arti suara.

Jadi, Sastiswara adalah permohonan atau doa atau usaha mendekatkan diri dengan Sang Maha Kuasa melalui suara.

"Suara tersebut bisa berupa suara manusia dan juga suara instrumen musik. Instrumen yang paling dekat dengan Islam kan Terbang, " jelas Waluyo dosen ISI Surakarta sekaligus pendiri Paguyuban Santiswara Larasmadya Wening Ati pada Minggu, (10/03).

Larasmadya berasal dari dua kata yaitu Laras yang memiliki arti enak, sedangkan Madya yang memiliki arti tengah-tengah.

"Enak yang berada di posisi tengah-tengah, tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu minim sekali. Nilai tengah itulah yang diajarkan oleh Islam yaitu oleh Nabi Muhammad, " jelasnya pada saat menjelaskan maksud dari Larasmadya.

Lalu Wening Ati inilah sebagai nama grupnya, seperti yang telah dikatakan oleh Waluyo, "Maksudnya dengan berseni kita senantiasa dalam situasi yang bening dan hati yang bersih. Karena dalam teks Santiswara Larasmadya ini memang mengajak kita kepada sesuatu yang baik."

Santiswara Larasmadya ini merupakan akulturasi budaya Islam dan Jawa yang menjadi salah satu wadah untuk menciptakan sebuah kesenian yang berbeda. 

Di dalamnya ada sebuah wadah berbentuk Gerongan yang terdapat pada teknik Jawa, sedangkan instrumen Terbang yang mewakili simbol bagi kebudayaan Islam.

Gerongan ini adalah suatu vokal yang dilantunkan bersama-sama dalam satu sajian Gending.

Maka dari itu, paguyuban miliknya ini diberi nama Paguyuban Santiswara Larasmadya Wening Ati yang sudah berdiri sejak 1996.

Alasan ia mendirikan Paguyuban ini, tidak lain karena ditengah-tengah kesibukannya menjadi dosen, ia ingin tetap dekat dan bermanfaat bagi masyarakat terutama yang berada di dekat lingkungannya.

Awal mulanya ia mengajak satu persatu warga sekitarnya untuk berlatih Santiswara Larasmadya ini.

Berbagai acara baik dalam kota maupun luar kota telah dilakuka, apalagi paguyuban ini bisa mengisi acara seperti nyewu (peringatan 1.000 hari), pernikahan, gebyar Maulid, Sekaten, dan acara-acara lainnya.

Selain itu, paguyuban Santiswara Larasmadya Wening Ati ini juga siap jika diundang ke acara dadakan.

Namun, dengan catatan acara tersebut akan dimulai dua hari atau satu hari sebelum mengundang paguyuban ini.

Santiswara Larasmadya Wening Ati ini kurang lebih terdiri dari instrumen gendang, empat terbang, gamelan, gender, dan slentem.

"Kami terdiri dari lima vokal dan enam instrumen, tetapi jika di acara tertentu bisa sampai 21 personil, seperti pada saat pementasan di Taman Budaya Jawa Tengah. Jadi tergantung acaranya," jelasnya pada saat menjelaskan anggota paguyuban disetiap pementasan.

Selain itu, Waluyo juga terkadang mengajak mahasiswa dan dosen ISI Surakarta untuk tampil di acara tertentu.

Tempat latihan paguyuban ini berada di masjid Nurul Huda Kaplingan Jebres Surakarta, tetapi biasanya juga berlatih di rumah Waluyo, dan biasanya pula berlatih di rumah salah satu anggota paguyuban ini.

Selain warga sekitar tempat tinggal Waluyo yang menjadi anggota paguyuban ini, masyarakat umum juga bisa ikut berlatih jika tertarik belajar tentang kesenian Santiswara Larasmadya ini.

Paguyuban Santiswara Larasmadya Wening Ati ini juga pernah menampilkan Musikalisasi puisi. Selain itu, Waluyo juga pernah mengadakan workshop tentang Santiswara Larasmadya ini.

Peserta workshop-nya perwakilan seniman-seniman dari 35 Kabupaten di Jawa Tengah. Terdapat pula pementasan dari Paguyuban Santiswara Larasmadya Wening Ati. (mg4/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#kebudayaan #Paguyuban #Santiswara Larasmadya #karawitan #solo #ISI