SOLOBALAPAN.COM - Kota Solo memiliki banyak bangunan yang ditinggalkan dan menyimpan beragam misteri di dalamnya.
Salah satunya adalah pabrik tekstil SSS yang berlokasi di Jalan Sam Ratalungi, Gremet, Manahan, Banjarsari, Kota Solo.
Dalam lokasi tersebut, sebenarnya ada tiga pabrik. Namun, pabrik bekas tekstil SSS atau pabrk tengah disebut-sebut paling banyak menyimpan kisah horror.
Dalam sejarahnya, pabrik tekstil SSS konon sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan sempat dimiliki orang Arab.
Di dalam bekas pabrik tekstil terdapat lahan kosong yang dulunya digunakan untuk menjemur hasil produksi pabrik tersebut.
Sedangkan, di sebelah barat dulunya digunakan untuk mencuci bahan tekstil pada saat pabrik masih beroperasi.
"Pabrik tekstil ini dulunya memproduksi kain putih,’" ujar salah satu warga sekitar pabrik bernama Hendro Joyo (46).
Pabrik ini sekarang tidak lagi beroperasi dan bangunanya yang sudah terlihat tua dan rapuh.
Tak pelak, bekas pabrik tersebut diyakini menjadi sarang ratusaan mahluk gaib.
Terdapat banyak cerita misteri dari masyarakat sekitar yang mengaku sering dihantui oleh penampakan gaib di area pabrik.
Salah satu lokasi tersebut adalah depan gerbang masuk pabrik.
Disebut-sebut, sering tejadi penampakan dan sering terjadi penampakan hantu noni Belanda di area tersebut.
Selain itu, bagian depan pabrik juga diceritakan pernah terlihat penampakan aneh berupa api yang menyala pada waktu malam hari.
Salah satu saksi orang yang pernah melihat penampakan api tersebut adalah penjual di kawasan bekas pabrik tersebut yang bernama Samudra (41).
"Pernah sekali saya melihat api yang menyala di depan bekas pabrik tekstil,” ujarnya.
Samudra pun menjelaskan penampkan lain yang pernah terlihat di pabrik tersebut.
Salah satu penampakan tersebut adalah hantu nonik-nonik Belanda yang masuk menembus tembok bangunan bekas pabrik tekstik.
Sosok lain yang pernah terlihat di depan pabrik adalah cewek yang wajahnya separuh rusak.
Dituturkan Samudra juga, ada seorang penjual sate yang dihantui sosok pocong saat lewat di pinggir jalan pabrik. (mg1/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro