SOLOBALAPAN.COM - Tidak jauh dari Kota Solo masih terdapat daerah yang memproduksi gerabah dengan cara yang tradisional.
Berlokasi di Bentangan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, desa ini terkenal akan produksi gerabahnya secara turun temurun.
Kala memasuki gapura utama Desa Bentangan, terlihat beberapa rumah yang masih beraktivitas memahat gerabah dan menjemurnya dipinggir jalan.
“Desa Bentangan memang terkenal sebagai desa produksi gerabah, bahkan dahulunya hampir setiap rumah menjalani usaha ini, namun semakin kesini semakin berkurang, karena anak-anak muda tidak mau meneruskan." tutur Pak Mulyadi yang masih mempertahankan usaha gerabahnya.
Hasil gerabah di Desa Bentangan memang lebih dominan diperjual belikan sampai di luar Solo Raya, pemesan biasanya berasal dari kota-kota besar bahkan sampai luar Jawa.
Banyaknya orang yang memesan gerabah digunakan untuk berbagai keperluan, seperti untuk tempat menaruh ari-ari ketika selesai melahirkan dan masih banyak berbagai bentuk gerabah sesuai kebutuhan yang diperlukkan.
Yang membuat spesial gerabah dari Desa Bentangan, yaitu dari pemilihan bahan baku dengan kualitas yang baik dan cara pembuatannya masih sangat tradisional.
Sehingga gerabah yang dihasilkan terkenal akan bentuk yang kokoh.
Untuk bahan baku gerabah berupa tanah liat yang dipasok dari daerah pedalaman Klaten.
Biasanya tanah liat yang datang masih belum halus, dan untuk menghaluskannya memakai mesin molen yang ditambahkan air.
Sehingga tanah liat yang telah halus tersebut bisa dibentuk berbagai macam kerajinan gerabah.
Proses pembuatan gerabah tergolong tradisional dan perlu keahlian khusus. Untuk menjadi gerabah didukung dengan pemanfaatan sinar matahari secara langsung.
Jika dalam keadaan terik maka gerabah akan cepat kering, namun ketika memasuki musim penghujan maka penjemuran gerabah akan terganggu.
Setelah gerabah kering, maka gerabah akan dibakar menggunakan oven yang terbuat dari batu bata.
Terdapat trik yang dipakai guna nyala api stabil yakni dengan menambahkan jerami untuk proses pembakarannya.
Gerabah dari Bentangan terkenal alami tanpa adanya pewarnaan dari cat, sehingga dalam tahap penjemuran sampai pembakaran dilakukan secara maksimal.
Maka dari itu jika ada sensasi warna merah pada gerabah, artinya dibalurkan dari tanah merah.
Saat ini kurang lebih 15 pengrajin yang masih bertahan membuat gerabah di halaman rumahannya.
Biasanya dalam sehari, setiap pengrajin memproduksi 100 sampai 150 pahatan gerabah dengan ukuran sedang sesuai dengan pesanan yang masuk.
Hampir semua pengrajin gerabah berharap dan memiliki keinginan agar usaha yang dijalankan ini nantinya bisa diteruskan secara turun temurun pada anaknya. (Mg12/nda)