SOLOBALAPAN.COM - Protojayan adalah kawasan di sekitar Solo yang terkenal dengan sentra industri blangkon. Untuk daerah bagian Solo ini memiliki jukukan kampung sentra blangkon.
Oleh karena itu, produksi blangkon di Kota Solo jadi jujukan wisatawan yang hendak berburu oleh-oleh.
Di Solo sendiri, diperkirakan blangkon mulai populer saat Mbah Joyo datang ke solo, tepatnya di Protobayan.
Kemudian sampai saat ini Mbah Joyo dikenal sebagai pelopor pembuatan blangkon di Kota Solo.
Dahulu pembuatan blangkon Mbah Joyo hanya dilakukan di kawasan sekitar Keraton Solo saja.
Namun menurut cerita masyarakat, Mbah Joyo mulai berpindah tempat tinggal di sekitar kawasan Protojayan, Solo hingga kawasan tersebut turut jadi sentra blangkon.
Salah satu sentra blangkon yakni milik Kaswanto yang saat ini sudah memasuki generasi dibawahnya yakni Arif (51) yang merupakan anak mantu dari Kaswanto.
Menurut Arif, Mbah Joyo ini ibarat seperti guru besarnya, lalu disebarluaskan dan dikembangkan oleh Kaswanto.
Awalnya masyarakat sekitar juga turut belajar dengan Kaswanto, sejak itu karena masyarakat sekitar yang gigih ingin mandiri dan berusaha akhirnya mulai banyak yang mendirikan usaha blangkon.
Di jawa kuno, blangkon dianggap sebagai barang yang sakral. Namun kini, pakem ataupun aturan terkait blangkon sudah mulai agak longgar sehingga dapat dipakai oleh masyarakat secara umum dari berbagai kalangan.
Berbeda lagi dengan aturan Keraton Kasunanan Solo untuk pakem dan aturan terkait penggunaan blankon yang masih eksis dijalankan.
Menurut Arif, bahan utama kerajinan blangkon miliknya adalah kain batik, lalu karton yang digunakan untuk sol.
Alatnya sendiri sudah berbentuk menyerupai kepala yang berbahan kayu untuk mempermudah proses pengukuran kepala.
Saat ini menurut Arif kendala usahanya ada bagian pemasaran, karena kurang terlalu fokus untuk membranding produknya.
" Kendala ya itu ya pemasaran, pas sepi ya sepi. Pemasaran juga kalau pas ada orderan besar waktunya yang ngga cukup. Umpamanya minta 500 biji dalam kurun waktu 7 hari padahal kita kekurangan SDM nya. Tapi terutama di pemasaran ya", terang Arif.
Di sela kendala tersebut, Arif tetap mempertahanakn eksistentisnya sebagai pelopor blangkon yang legendaris di Protojayan, Solo. (Mg 5/nda)
Editor : Nindia Aprilia