SOLOBALAPAN.COM - Di balik motif indah dan warna-warni menawan, batik menyimpan cerita tentang dedikasi dan kegigihan.
Salah satu kisahnya datang dari Mbeku, Kliwonan, Sragen, tempat Ibu Sukarni mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan batik.
Sejak tahun 1980, Ibu Sukarni menapaki jalan batiknya.
Awalnya, dia belajar dari tetangga, kemudian menimba ilmu di berbagai pameran batik.
Pengetahuannya yang luas tentang batik mendorongnya untuk membuka usaha batiknya sendiri, "Batik Ganesh".
Bermula dengan batik tulis, Ibu Sukarni mengikuti arus zaman dengan merambah batik cap sejak tahun 2017.
"Mengingat kembali untuk masa kini sudah semakin langka orang yang mau membatik secara manual," terang Bu Sukarni.
Kini, batiknya tak hanya menghiasi Sragen, tapi juga berbagai kota di Indonesia, bahkan menembus pasar internasional melalui kerjasama dengan mitra bisnis.
Tak hanya di Sragen, Batik Ganesh juga membuka kios di Jakarta, menjadi bukti nyata kiprahnya di dunia batik.
Batik cap menjadi andalannya, dengan ragam motif khas Solo, Pekalongan, dan banyak lagi.
Proses pembuatan batik cap memakan waktu sekitar 1 ½ jam, dengan berbagai tahapan dan bahan yang berbeda dari batik tulis.
Harganya pun terpaut, batik tulis lebih mahal daripada batik cap.
Permintaan batik selalu meningkat menjelang lebaran dan pemilu, mencerminkan batik sebagai budaya yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat.
Kegigihan Ibu Sukarni dalam melestarikan batik tak sia-sia.
Kini, usaha batiknya diwariskan kepada generasi penerus, memastikan kelestarian budaya ini di masa depan.
Harapan Sukarni kedepannya generasi muda harus bisa mengembangkan kebudayaan lokal, salah satunya batik.
Karena batik bisa menjadi simbolik tersendiri bagi bangsa Indonesia. (mg2/rei)