SOLOBALAPAN.COM - Pada masa lalu, masyarakat Solo masih memiliki pemikiran yang simpel dan cara belajar yang terikat dengan budaya, alam, dan juga agama.
Sehingga dalam proses mereka belajar tentang ketuhanan filosofi kehidupan masih dikaitkan dengan kondisi sekitar.
Salah satunya adalah yang dulunya dilakukan oleh Pakubuwono IX.
Dalam menentukan keputusan dan mengambil sikap, dia perlu menekan hawa napsunya dengan cara bertapa 40 hari 40 malam tanpa makan.
Dengan demikian, keputusan dan sikap yang digapainya nanti tidak untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kemaslahatan masyarakat.
Salah satu tempat yang digunakan oleh sang raja adalah Sumur Songo.
Penamaan sumur tersebut menggunakan gelar beliau sebagai raja yang kesembilan.
Sumur Songo yang berada di Keraton Solo ini biasanya disebut masyarakat zamzam-nya orang Jawa.
Hal ini dipaparkan oleh salah satu abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta yang bernama Narso.
“Oh ini sumur namanya Sumur Songo. Ini juga termasuk obyek wisata yang ada di keraton," terang Narso.
"Orang Jawa biasanya nyebutnya zamzam Jawa,” jelasnya pada Selasa (20/02).
Sumur Songo adalah bukti ikhtiar sang raja dalam pengambilan keputusan.
Keputusan tersebut harus benar-benar mengayomi dan tidak berdasarkan hawa napsu yang sifatnya merusak atau tidak sempurna.
Hal tersebut sudah ada pada filosofi pohon beringin yang terletak di kedua alun-alun Solo sebagai pengingat.
“Jadi ini adalah tempat dulunya pertapaan Raja Pakubuwono IX, yang melakukan tapa selama 40 hari 40 malam di atas sumur dengan beralaskan sebilah papan." terangnya.
"Jadi ketika beliau melakukan tapa tersebut tertidur maka akan langsung terjatuh ke dalam sumur."
"Beliau mendapat julukan Sinuwun Mbangun Topo,” jelas Narso. (mg4/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro