SOLOBALAPAN.COM – Beragam kebudayaan yang berada di Solo membuat kota ini disebut sebagai jantungnya kebudayaan Jawa.
Narimo (59) salah satu seniman yang melestarikan kebudayaan Jawa lewat kerajinan topeng miliknya sudah diminati sampai ke mancanegara.
Banyak turis-turis yang tertarik dengan kerajinan topeng miliknya. Bahkan ia sudah pernah pameran ke luar negeri di antaranya ke Korea, Singapura, dan Inggris.
Hanya menempuh sekitar 16 menit saja dari Alun-alun Kidul sampai ke tempat produksi kerajinan Topeng ini.
Kerajinan topeng yang diberi nama Narimo Topeng ini tepatnya berada di Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.
Ia sudah menekuni bisnis kerajinan topeng ini sekitar 35 tahun lamanya. Tak heran kemahirannya dalam membuat kerajinan topeng tak perlu dipertanyakan lagi.
Sedari kecil Narimo tertarik dengan kebudayaan Jawa, karena ayahnya merupakan seorang dalang.
Kemampuannya dalam bidang kesenian sudah terasah dari kecil. Pada saat menginjak Sekolah Dasar ia sudah bisa menata wayang.
Kecintaanya kepada kebudayaan Jawa membuatnya ingin mendalami ilmu perdalangan. Ia melanjutkan pendidikan SMA dengan jurusan perdalangan.
Selang satu tahun lulus SMA ia bekerja di Taman Budaya Jawa Tengah dan disitulah ia mempelajari cara pembuatan kerajinan topeng.
Alasannya ingin mempelajari sekaligus menjual kerajinan topeng tersebut adalah belum banyak yang membuat kerajinan topeng.
“Jika pengrajin wayang kan sudah banyak, tetapi kalo perngrajin topeng masih jarang,” ucap Narimo pengrajin Topeng pada Kamis (22/02).
Bahkan sampai sekarang hanya Narimo yang menggeluti kerajinan topeng di Solo. Topeng yang dibuat di antaranya untuk menari sekar taji, gunung sari, dan tari klotak.
Media promosi yang ia gunakan yaitu hanya lewat instagram dan dari rumah saja. Instagram untuk kerajinan topengnya itu bisa dilihat pada akun @narimotopeng.
Pada akun tersebut sudah tertera kontak yang bisa dihubungi, sehingga memudahkan pemesan untuk memesan karyanya. Ia tidak menggunakan market place untuk menjual hasil karyanya itu.
Dikarenakan pembuatan kerajinan topeng harus mempertahankan kualitas dan pembuatannya pun cukup lama, karena memperhatikan ke detailannya.
Narimo membutuhkan waktu satu minggu hingga berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu topeng.
Jika pesanan yang diminta terlalu rumit maka, ia bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan.
Namun, jika pesanan yang diminta seperti topeng Sekar Aji, ia bisa menyelesaikan dalam waktu satu minggu saja.
Semakin detail dan rumit topeng yang ia buat, maka harganya juga semakin mahal.
Topeng yang ia buat berkisar harga dari Rp 350.000 sampai jutaan rupiah. Narimo dibantu oleh lima orang karyawan untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Karyawannya pun tidak sembarang, mereka harus benar-benar bisa membuat kerajinan topeng.
Karena cara pembuatan kerajinan topeng tidaklah mudah. Narimo menggunakan kayu gamelina untuk kerajinan topeng yang dibuatnya.
Alasan menggunakan kayu tersebut, karena serat yang dimiliki oleh kayu gamelia relatif sedikit, sehingga mudah untuk di amplas atau dihaluskan.
Selain itu kayu gamelina ini ringan dan tidak terlalu mahal, sehingga jika dipakai tidak terlalu berat.
Sebelumnya Narimo juga membuat sovenir, tetapi karena tenaga dan waktu yang ada berkurang, sehingga ia sudah mengurangi produksinya.
Sovenir sendiri dibandrol dengan harga Rp 180.000 hingga Rp 200.0000. Selain sovenir gantungan kunci hanya dibandrol dengan harga Rp 5000 sampai Rp 10.000 saja.
Disetiap karakter topeng yang ia buat memiliki cerita yang berbeda-beda.
Salah satunya pada topeng Sekar Taji, menceritakan sekar taji yang sudah dinikahi oleh panji asmoro, namun Klono tetap menikahi Sekar Taji walaupun ia sudah memiliki suami. Terjadilah perebutan antara keduanya.
Pembuatan kerajinan topeng ini banyak menggunakan alat-alat khusus seperti gergaji, palu, pethel, pengot, dan lain-lain.
Cat yang digunakan pun menggunakan akrilik. Akrilik dipilih karena tidak gampang luntur.
“Cat menggunakan akrilik. Pemilihan akrilik karena tidak gampang luntur,” jelasnya.
Awal-awal menekuni kerajinan topeng ini, Narimo menemukan beberapa hambatan. Dari mulai pemilihan warna yang bagus seperti apa, kayu yang bagus seperti apa.
Namun, ia banyak mengunjungi pameran-pameran yang ada dan dengan latar belakang dari pewayangan ia bisa mengatasi hal tersebut. Karena memang wayang dan topeng tidak jauh berbeda.
Kerajinan topeng ini memiliki dua jenis yaitu ada yang hanya khusus untuk pajangan saja dan ada pula untuk pertunjukan tari.
Jika topeng yang hanya untuk pajangan saja itu memiliki ukuran yang lebih besar, jika topeng untuk pertunjukan ukurannya lebih kecil. Ada pula topeng yang dilapisi emas dan dibandrol dengan harga Rp 3,5 jutaan.
“Belajar topeng harus tekun, disiplin, telaten, artinya jangan malas, dan terus kreatif,” pesanya.
Narimo memberikan pesan bahwa membuat kerajinan topeng itu tidak mudah dan dibutuhkan kedisiplinan, telaten, dan kreatif. (mg4/nda)
Editor : Nindia Aprilia