SOLOBALAPAN.COM - Pengrajin Rebana yang memiliki tempat produksi di daerah Teras, Boyolali ini sudah memiliki banyak cabang.
“Konsumen dari luar Jawa dan luar negeri ada, kebanyakan yang pesan dari luar negeri dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Hongkong, Malaysia,” jelas Janu selaku pemilik Rebana centre pada Kamis (22/02).
Janu pendiri sekaligus pemilik Rebana Centre mempunyai cabang di Kartasura, Boyolali, Jogja, Magelang, Semarang, Batang, Purwokerto, dan Cilacap.
Selain itu, reseller rebana centre sudah menjamur di seluruh wilayah indonesia baik itu pulau Jawa maupun luar pulau Jawa.
Reseller dari luar pulau Jawa diantaranya ialah Nusa Tenggara Timur (NTB), Lampung, Pekan Baru, Batam, dan lain-lain.
Sistem pengirimannya menggunakan jasa pengirim, tetapi untuk cabang yang berada di Jogja, Semarang, dan Magelang Janu mengirimnya sendiri.
Rebana centre menyediakan berbagai macam tipe rebana diantaranya hadroh, keplak, bas, dan bedug.
Tersedia dari berbagai ukuran, hadroh yang memiliki ukuran 28 centimeter (cm), 30 cm, dan 32 cm; keplak 18 cm dan 22 cm.
Harga yang dibandrol pun berbeda-beda, keplak ukuran yang paling kecil Rp 75.000. Sedangkan hadroh dengan kualitas standar Rp 300.000 dan hadroh kualitas premium dibandrol dengan harga Rp 350.000.
Perbedaan dari kualitas standar dan premium ialah dari segi suara yang dihasilkan saat dimainkan.
Jika pelanggan ingin menambahkan ukiran direbananya, maka akan ada biaya tambahan sebesar Rp 50.000. Ukiran yang diminta bisa nama bahkan sampai ukiran yang rumit.
Semakin rumit ukiran yang dipesan, maka semakin mahal biaya tambahannya.
Selain itu ada pula paket rebana yang terdiri dari empat hadroh dengan diameter 28 cm, dua keplak dengan diameter 18 cm, satu tam tung dengan diameter 22 cm, satu dumbuk pinggang 8 inch, dan satu bass habsy dengan ukuran 14 inch.
Enam macam rebana tersebut dibandrol dengan harga Rp 2 jutaan. Harga dalam satu paket tersebut sudah termasuk tas.
Pelanggan juga bisa membeli rebana per-item, ecer, dan grosir. Tas khusus rebana juga tersedia dengan harga Rp 30.000, Rp 100.000, dan Rp 150.000, tergantung ukurannya.
Dalam produksi rebana ditempat ini juga menggunakan beberapa bahan dengan kualitas terbaik.
Kayu yang digunakan berasal dari kayu nangka dan mahoni, sedangkan kulit yang dipakai berasal dari kulit kambing Jawa.
Selain kulit kambing yang digunakan, ada pula rebana yang menggunakan bahan mika.
Dari segi kualitas antara kulit kambing dan mika sama, tetapi dari segi perawatan berbeda. jika kulit tidak boleh disimpan ditempat yang lembab karena bisa sebabkan pertumbuhan jamur.
Janu sempat memproduksi sendiri kulit kambing, pada saat masih memproduksi rebana di rumahnya yang berada di Boyolali.
Namun, karena limbahnya susah untuk dibuang dan bau yang dihasilkan sangat menyengat maka dari itu, ia memutuskan untuk membeli kulit kambing sampai sekarang.
“Kulit kambing membeli dari orang, dulu pernah buat sendiri, tetapi limbahnya susah dibuang, soalnya baunya ngga kuat takut menganggu warga,” ucapnya.
Semua rebana produksinya terdapat tulisan Pengrajin Jepara, karena Jepara terkenal dengan kualitas kayu yang bagus dan kayu yang digunakan oleh Janu juga semua berasal dari Jepara.
Maka dari itu, setiap item rebana ditulis dengan tulisan Pengrajin Jepara.
Tidak hanya melayani penjualan rebana saja. Rebana Centre juga melayani jasa perbaikan rebana. Perbaikan rebana dibandrol sekitar Rp 175.000.
500 item rebana bisa ia produksi selama satu bulan dengan dibantu karyawan sebanyak 11 orang.
Rebana Centre juga menyediakan sarung, baju koko, dan lain-lain sebagai pelengkap saja. Namun ia lebih fokus dengan produksi rebana. Rebana bisa dibeli langsung, tetapi jika sarung dan baju koko Rebana Centre sistemnya PO (Pre-Order).
Janu memanfaatkan google, instagram, fecebook, youtube, dan tiktok untuk mempromosikan jualannya dengan nama brand-nya yaitu Rebana Centre. (mg4/nda)
Editor : Nindia Aprilia