SOLOBALAPAN.COM - Menginang atau Nginang merupakan salah satu tradisi yang populer di zaman dulu.
Nginang sendiri merupakan suatu istilah penyebutan saat mengunyah beberapa bahan seperti daun sirih, pinang, dan juga kapur.
Tradisi nginang kini mulai ditinggalkan karena kurangnya pengetahuan anak zaman sekarang tentang manfaat nginang.
Dilansir dari museum nasional, dahulunya masyarakat di nusantara memiliki kebiasaan menginang karena bermanfaat bagi kesehatan.
Di Jawa sendiri pinang dan sirih sudah ada sejak abad ke sembilan sampai abad ke sepuluh, hal ini ditunjukkan dengan adanya sebuah prasasti.
Pada zaman dahulu, penyajian nginang menjadi salah satu tanda keramah tamahan yang disajikan saat ada tamu yang datang.
Konon, setiap tamu yang disuguhkan untuk "nginang" harus mengikutinya sebagai bentuk penghargaan terhadap yang menyuguhkan.
Ternyata bukan hanya itu, nginang juga disuguhkan dalam upacara penguburan untuk roh orang yang telah meninggal.
Selain itu nginang juga sebagai sajian terhadap leluhur dalam upacara adat di beberapa daerah.
Disini, sirih dan pinang sendiri merupakan obat yang memiliki kandungan antiseptik yang bagus untuk menjaga kesehatan mulut.
Namun, beberapa orang juga merasa aneh dan takut dengan tradisi nginang yang sudah turun temurun ini.
Kunyahan pinang dan sirih yang ditambah kapur akan menghasilkan warna merah di mulut.
Sehingga setiap orang yang nginang akan nampak mengerikan seperti seolah mengeluarkan darah dari mulutnya, padahal itu dihasilkan dari kunyahan beberpa bahan tersebut.
Selain itu, beberapa masyarakat juga kurang menyukainya karena rasanya yang aneh dan ada sedikit pahit atau sepat. (nda)