Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Komunitas Tionghoa Solo Gelar Guonian Qijian Dasao Fangzi di Mangkunegaran, Bukti Keragaman Bukan Sesuatu yang Memisahkan

Mannisa Elfira • Minggu, 11 Februari 2024 | 16:45 WIB

 

AKULTURASI: Komunitas Tionghoa di Kota Solo membersihkan gedung Kavallerie-Artillerie di kompleks Pura Mangkunegaran, kemarin (9/2). (MANNISA ELFIRA-M.IHSAN/RADAR SOLO)
AKULTURASI: Komunitas Tionghoa di Kota Solo membersihkan gedung Kavallerie-Artillerie di kompleks Pura Mangkunegaran, kemarin (9/2). (MANNISA ELFIRA-M.IHSAN/RADAR SOLO)

SOLOBALAPAN.COM - Masyarakat Tionghoa di Solo dan daerah lain baru saja merayakan Tahun Baru Imlek pada Sabtu (9/2).

Ada berbagai cara unik yang dilakukan warga Tionghoa Solo dalam merayakan hari istimewa itu.

Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui giat guonian qijian dasao fangzi atau membersihkan rumah saat Tahun Baru Imlek.

Sasaran kegitan itu sendiri adalah gedung Kavallerie-Artillerie di kompleks Pura Mangkunegaran, kemarin (9/2).

Dilansir dari Radar Solo, sejumlah anggota komunitas Tionghoa mulai berdatangan di Pura Mangkunegaran sekira pukul 09.00.

Mereka mengenakan kaus warna merah dan hijau.

Mereka berasal dari komunitas Paprika (muda mudi Hakka), Pakin (Pemuda Khong Hu Cu), serta Solo Youth Club (SYC) yang merupakan muda-mudi Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS).

Setiba di sana, satu per satu dari mereka mulai menggenakan jarit berupa kain batik yang disediakan pihak Pura Mangkunegaran.

Ada yang mengenakan sendiri, ada juga yang harus dibantu.

Mereka datang tidak dengan tangan kosong. Ada yang membawa sapu lidi, sapu ijuk, lap, kemoceng, dan alat kebersihan lainnya. 

Menurut tulisan WuZimu saat Dinasti Song, dalam Mengliang Lu terdapat pepatah làyuè èrshísì, dǎn chén sǎo fángzi.

Artinya, pada hari ke-24 bulan ke-12 Lunar, bersihkan debu dan menyapu rumah.

Secara harfiah, kegiatan tersebut juga diartikan sebagai membersihkan tahun yang sudah dilewati.

Tokoh Tionghoa sekaligus Wakil Ketua Umum PMS Sumartono Hadinoto pun menjelaskan mengenai kegiatan ini.

Dijelaskannya, sebelum Hari Raya Imlek ada kebiasaan membersihkan rumah, termasuk membersihkan diri.

Misalnya potong rambut, memakai pakaian baru, dan sebagainya.

“Menurut cerita, dewa dapur selalu melapor ke raja surga. Karena itu sebelum Hari Raya Imlek, semua harus dibersihkan. Supaya laporannya yang baik-baik,” ungkap Sumartono.

Sumartono mengakui, baru kali ini tradisi bersih-bersih saat Imlek digelar di Pura Mangkunegaran.

Dia berharap ke depan giat seperti ini terus berlanjut.

“Dalam sejarah, Mangkunegaran ada hubungannya dengan teman-teman Tionghoa. Sangat erat sekali,” imbuhnya.

Giat membersihkan area Mangkunegaran tidak hanya dilakukan komunitas Tionghoa saja.

Kegiatan ini disebutkan juga melibatkan sejumlah abdi dalem Mangkunegaran.

Diawali dari gedung Kavallerie-Artillerie. Mulai dari halaman, ruangan di dalam, hingga lantai 2 gedung. Disapu dan dilap oleh peserta. 

Bahkan, Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPPA) Mangkunegara X Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo terlihat menghampiri peserta, untuk sekadar menyapa, bersalaman, berbincang, hingga foto bersama. 

“Saya senang sekali. Ini bukti, bahwa keberagaman bukan sesuatu yang memisahkan," jelasnya.

"Tapi mempersatukan dan menguatkan satu sama lain."

"Kebetulan di Tionghoa ada tradisi bersih-bersih sebelum Tahun Baru Imlek."

"Terima kasih kepada teman-teman yang bersih-bersih di Mangkunegaran,” ucap Gusti Bhre.

Gusti Bhre juga bersyukur, karena giat ini selaras dengan visi Mangkunegaran.

Visi yang dimaksud adalah menjadikan Mangkunegaran sebagai rumah untuk seluruh kebudayaan nusantara.

Gusti Bhre pun berharap hubungan baik komunitas Tionghoa dan Mangkunegaran bisa terus berlanjut ke depannya. (nis/fer/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#guonian qijian dasao fangzi #imlek #mangkunegaran #tionghoa #solo