Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Kebo Bule Kyai Slamet di Alun-alun Keraton Solo, Begini Sejarah dan Asal Mula Penamaannya

Reinaldo Suryo Negoro • Kamis, 8 Februari 2024 | 22:48 WIB
Kebo bule yang berada di sekitar alun alun selatan Keraton Solo (DOK.PRIBADI/ULYA)
Kebo bule yang berada di sekitar alun alun selatan Keraton Solo (DOK.PRIBADI/ULYA)

SOLOBALAPAN.COM - Kota Solo memiliki banyak ikon yang terkenal, salah satunya adalah ketika perayaan malam satu suro yaitu keberadaan kerbau bule atau masyarakat lebih mengenal dengan Kebo Bule.

Kehadiran kebo bule selalu ditunggu-tunggu oleh warga dengan antusiasme yang sangat tinggi oleh masyarakat khususnya warga solo.

Banyak kisah yang berkembang, masyarakat jawa banyak yang percaya bahwa keberadaan kebo bule ini dianggap membawa keberkahan dan keselamatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Maka dari itu, kedatangan kebo bule ini selalu dinantikan dan masyarakat berusaha untuk memegang sang kebo bule dan mengambil air jamasan.

Bahkan, banyak warga yang berusaha berbondong-bondong mengambil kotoran dari kebo bule yang jatuh di jalan ketika ritual mubeng beteng.

Ritual mubeng beteng sendiri dilangsungkan dengan membawa pusaka milik Keraton Solo yang dipercaya punya khasiat tertentu.

Dilansir dari laman Pemerintah Kota Solo, kebo bule yang bernama Kyai Slamet mempunyai sejarah menarik untuk diketahui.

Nama Kyai Slamet sendiri sebenarnya merupakan sebuah nama salah satu pusaka milik keraton yang berbentuk tombak,

Pusaka tersebut seringkali dibawa berkeliling tembok Baluwarti tiap hari Selasa dan Jumat Kliwon oleh Pakubuwono X.

Dari yang awalnya hanya sebuah rutinitas yang sering dilakukan, kini menjadi sebuah tradisi yang terus dilestarikan oleh kerabat keraton.

Saat tradisi dilangsungkan, kebo-kebo itu ikut berjalan bersama di belakang tombak Kyai Slamet.

Sebutan Kebo Bule Kyai Slamet pun melekat pada kebo-kebo tersebut.

Kebo Bule ini diketahui berasal dari pemberian Bupati Ponorogo, Kyai Hasan Besari Tegalsari.

Kebo-kebo itu diperuntukkan sebagai hadiah yang ditujukan untuk raja yang berkuasa saat itu, Pakubuwono II, atas kesuksesan merebut kembali Keraton Kartasura dari tangan pemberontak Pecinan.

Peristiwa itu dilanjutkan dengan pindahnya kerajaan dari Kartasura ke Desa Sala pada 20 Februari 1745.

Kebo ini diberikan sebagai pengawal dari tombak Kyai Slamet.

Dari kisah ini ada satu hal yang menarik dari dipilihnya Desa Sala sebagai tempat pindahnya Keraton Kartasura.

Pada saat itu, kebo bule memiliki peran dalam pemilihan tempat kerajaan yang baru.

Kebo Bule dilepas dan dibiarkan berjalan sendiri berkeliling hingga akhirnya berhenti di sebuah tempat yang saat ini jadi lokasi Keraton Kasunanan berada.

Kebo Bule yang jadi kesayangan Pakubuwono II ini tentunya mempunyai makna tersendiri sebagai lambang rakyat kecil terutama dari golongan petani dan jadi simbol tolak bala.

Soalnya, kerbau sendiri dipercaya mempunyai rasa peka dalam hal mengusir roh jahat dan mampu menghilangkan niat buruk.

Meskipun begitu, kerbau identik dengan hewan yang bodoh.

Ini bisa jadi pengingat untuk kita semua sebagai manusia yang memiliki akal budi harusnya menjadi manusia yang pintar dan bijak, jangan sampai bertindak dan berpikir bodoh layaknya kerbau.

Kebo-kebo bule itu kini dikandangkan di sisi selatan Alun alun Kasunanan Surakarta.

Dengan lokasi yang strategis dan gampang dijangkau, kandang kebo bule ini jadi salah satu tempat favorit tujuan wisatawan lokal terutama warga Solo.

Di sekitar kandang ada penjual sayur kangkung dan bisa dibeli hanya 3000 tiap ikatnya untuk memberi makan kebo bule.

Memberi makan kebo bule sendiri bisa jadi sebuah kegiatan yang sangat seru dan menyenangkan dilakukan bersama anak-anak ketika menikmati sore di alun alun selatan Solo. (mg6/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#Keraton #alun-alun #Kyai Slamet #solo #kebo bule